Jeda Agar Tidak Lupa Caranya Menjadi Manusia

Sepertinya kita sudah terlalu lama dicekoki ilusi tentang bahagia sehingga lupa kalau sebenarnya bahagia itu sederhana saja.
Seperti sepakat mengambil cuti bersama untuk mengenang kegemaran lama  mengekplorasi sudut-sudut kota yang terlupakan. Menatap cemas langit yang tiba-tiba mendung dan pecah menjadi butiran-butiran hujan yang membasahi lengan baju dan punggung . Kemudian berlari-lari kecil menghindari genangan yang dihantam ban mobil-mobil mewah dengan tata cara berkendara yang urakan.


Naik-turun kendaraan umum sambil menatap wajah-wajah asing dan membayangkan cerita-cerita hidup mereka. Benar juga kata seorang teman, untuk ingat bagaimana cara menjadi manusia, kita memang harus sering berada bersama-sama dengan manusia lainnya. Tidak membatasi interaksi dengan tembok yang terlalu tinggi atau kaca-kaca mobil berpendingin yang hitam pekat.

Jelang senja, kami mampir dan duduk-duduk di taman kota. Menyaksikan wajah-wajah lelah, mumet atau kadang, walau jarang, terlihat sumringah. Membaca satu-dua lembar dari buku tebal yang selalu dibawa kemana-mana. Sambil menunggu kehadiran kucing-kucing liar yang selalu memasang wajah lapar. Menggelitik leher mereka, kemudian melepas doa agar mereka senantiasa sehat dan bertemu dengan manusia-manusia baik hati di sepanjang hidup mereka.


Matahari sudah turun ketika kami beranjak menghampiri satu kedai makan ala barat dengan kaca-kaca memanjang yang begitu menarik perhatian. Sedari awal kami sudah menduga. Tempat-tempat yang bagus sebagai latar foto, biasanya menyajikan menu buruk rasa atau harga yang di atas rata-rata. Benar saja, sambil tergelak, kami mengumpat melihat harga bir dan kentang goreng yang diolah dengan cara yang tidak terlalu istimewa. Dalam hati, kami berjanji untuk menuntaskan lapar di kedai cepat saji dekat stasiun saja nanti. Hari itu kami sedang tidak mood dengan yang fancy-fancy.

Dalam perjalanan pulang, kami membahas konser musik yang batal ditontonnya, genre buku yang sedang kugemari, anjing-anjing kami, gosip selebriti, tukang rumput langganan, kota tempat kami tinggal. 

Satu hari berlalu dari hidup manusia. Ada yang melakukan banyak pencapaian. Memecahkan rekor dunia. Mengalahkan keraguan diri. Menemukan obat baru. Memecahkan kasus yang rumit. Memikirkan masa depan bangsa. Menyelamatkan bayi koala.

Kami, hanya melalui hari itu dengan hati yang gembira. Menjadi sadar. Menjadi manusia. Tidak banyak memang. Tidak akan tercatat pun dalam buku sejarah. Tidak mengapa.

Buat kami, cukuplah.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *