Taman Baca: Meredup, Namun Menolak Untuk menyerah

Taman baca sebaiknya memang harus ada dan tetap ada.

Di ujung kota Bandung, cucu sang pemilik taman baca mencoba mempertahankan pustaka yang memiliki koleksi lebih dari 180 ribu buku. Mulai dari menambah warung kopi kekinian (kopi susu rumahan dan bitterballen-nya layak dicoba), gerobak nasi bakar dan jasa ekspedisi agar setidaknya tidak terlalu sepi.

Karena terbentur domisili, saya hanya bisa meminjam untuk baca di tempat novel Natsuo Kirino, Out, yang sudah lama ingin saya tuntaskan.  Cukup merogoh kocek tiga ribu rupiah saja, silahkan membaca selama apapun yang kita mau, sambil ditemani musik jazz yang diputar pelan dan angin kota Bandung yang sepoi-sepoi sejuk.

 

Tidak ada barista yang menatap dari rambut sampai ke ujung kaki, atau terus menanyakan apakah ingin tambah ini dan itu ketika isi gelas kopi mulai surut dan piring makan telah licin tandas—padahal perut sudah penuh dan yang kita ingini hanya duduk dan membaca tanpa jeda. Sepertinya mereka cukup tahu diri, mengingat 3 jam duduk di sana, pengunjungnya hanya saya dan sahabat saya saja. Redup namun menolak menyerah.

Terima kasih telah menjaga api literasi tetap menyala, sekecil apapun itu.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *