2019: In Retrospect

Hidup memang selalu punya cara untuk mengelabui kita dan ekspektasi kita.

Penghujung 2018. Dua hari menjelang tahun tersebut berakhir, saya ingat sedang duduk di belakang meja kerja. Menekan tombol “kirim” untuk suatu makalah tugas akhir kepada dosen di kampus dan menutup laptop dengan perasaan lega yang luar biasa. Satu tahun, hampir berlalu, kemudian mengingat-ingat tentang hal-hal apa saja yang telah dilakukan, tidak dilakukan, dirayakan, ditangisi, ditertawakan, disesali, kesempatan-kesempatan yang saya ambil—atau yang dilewatkan begitu saja yang membawa saya hampir ke garis akhir tahun itu.

Saya ingat, rasanya selain keputusan gagah berani untuk melanjutkan pendidikan (beserta dengan segala kesusahan yang mengikutinya), rasanya tidak ada hal-hal lain yang terlalu luar biasa berlangsung di tahun lalu. Tidak ada yang surprise-surprise banget—walau tidak ada yang menurutku juga terlalu mulus-mulus banget. Bila ada yang terasa menyenangkan, mungkin adalah pengalaman beberapa kali berpergian dengan pasangan, keluarga dan sahabat dekat—juga momen-momen memiliki lingkar persahabatan baru yang membawa warna sendiri dalam hidup.

Sambil duduk dan melihat folder berisi foto-foto digawai, saya ingat bergumam pada diri sendiri, bahwa tahun 2019 harus jadi tahun yang lebih asik, lebih all out, lebih ceria dibanding 2019. Secara personal, profesional dan tentu saja secara akademis.

Hari ini, tepat sebelum tahun baru, kembali saya berada di momen ketika aku mencoba melakukan kilas balik tentang apa yang saya lakukan setidaknya di 362 hari terakhir. Tidak banyak yang berubah, saya masih berjibaku dengan beberapa makalah akhir (pantang kumpul sebelum deadline yang kambuh kembali), masih kesal dengan urusan timbangan yang terus bergeser ke kanan setiap musim ujian sekaligus liburan tiba, memasuki kelompok usia baru (dan mulai menggunakan semua produk skincare berlabel anti-aging) dan seperti biasa, tidak pernah punya resolusi tentang apa-apa yang akan dilakukan tahun depan. Tempat saya menulis sudah berpindah, karena saya harus merelakan ruang kerja dan baca saya berganti fungsi untuk penghuni baru di rumah. Saya juga sudah mengucapkan selamat tinggal pada laptop kesayangan  yang telah menemani  selama tujuh tahun terakhir menulis proposal, pekerjaan, karya akademis dan manuskrip-manuskrip lain yang saya relakan hilang bersamaan dengan hilangnya nyawa laptop itu secara tiba-tiba.

Tapi hidup memang selalu punya cara untuk mengelabui kita dan ekspektasi kita. 2019 dimulai dengan cara yang sangat mulus, sedikit kegundahan, banyak kecerobohan, harapan-harapan yang infatil dan mentok karena semesta memang punya caranya sendiri untuk menyelamatkan saya dari berbagai pikiran-pikiran pendek yang punya potensi membawa saya ke dalam berbagai kesusahan. Pertengahan menuju akhir tahun, bila boleh meminjam istilah Nietzsche, saya melihat banyak selubung dari orang-orang sekitar saya yang mulai terbuka. Mana yang sahabat, mana yang dengan asas manfaat. Begitu hitam-putih dan mengejutkan sana-sini. Ditambah beberapa beban tanggungjawab yang begitu saja dilemparkan ke pangkuan saya. Tanpa memberi ruang tawar. Tanpa mempertanyakan kesiapan saya. Merampas satu-satu hal yang dulu sangat saya hargai dan nilai tinggi: kebebasan, jarak dan privasi.

Semua konsep, tidak perlu menyebutnya sampai ideal, tapi konsep decent saja, seolah-olah diluluhlantakkan oleh orang-orang yang menolak bertanggungjawab terhadap hidup mereka sendiri. Dan itu membuat saya lelah, bukan secara fisik, melainkan mental. Saya butuh rehat. Saya butuh lebih dari bergelas-gelas kopi. Saya butuh sesuatu yang melebihi sekadar refleksi. Saya butuh ruang pribadi saya lagi.

Saya akhirnya jadi paham mengapa beberapa teman undur dari gelanggang. Bukan karena mereka ingin memutuskan silaturahmi. Atau menjauh. Atau tidak peduli lagi. Mereka butuh lepas dari hal-hal yang selama ini menggenggam mereka begitu kuat, yang menyesakkan yang mengimpit dan tidak bisa membuat berpikir. Mereka, seperti saya di penghujung tahun ini, butuh jeda.

Pada level permukaan, mereka yang butuh jeda terlihat seperti orang-orang pemarah, sensitif, kasar, berceloteh seenak perut, emosional, dan mudah terganggu dengan orang-orang di sekitar mereka. Saya rasa, wajah-wajah di atas adalah yang paling banyak saya tampilkan pada setidaknya semester terakhir 2019 ini. Pada titik hampir menjadi pribadi yang sangat destruktif dan menyebalkan, saya siuman total.

Tahun 2020, saya tidak mau memulainya dengan omongan besar. Berbagai retorika kosong tentang “klaim ini jadi milikmu!” atau “Harus selalu positif, perkatakan dengan imanmu!” Karena sesungguhnya, buat apa itu semua? Bukankah Ayub sendiri pernah bilang, kamu telah menerima apa yang baik dari Allah—tetapi tidak mau menerima yang buruk? Atau seperti sabda (lagi-lagi) Nietzsche, bahwa hidup ya harus diterima begitu saja, chaos dan order. Lagi, chaos dan order. Begitu terus. Tugas kita lah untuk bangun setiap hari, dengan moral tuan (master slavery) dan menyatukan bagian-bagian diri kita itu agar tidak terserak dan menerima bahwa memang demikian hidup bergulir.

Kerjakan apa yang menjadi bagian kita—apa yang ditaruh Tuhan di tangan kita, karena selalu ada komponen ”X” dari segala sesuatu yang memang bukan bagian kita. Seperti tanaman yang kau tanam, kau hanya bisa menyiram dan memupuk, karena Tuhan lah yang memberi pertumbuhan.

Jangan lagi gentar, walau baru bisa melangkah perlahan. Kuatkan tangan yang lemah dan lutut yang gemetar. Satu tahun penuh telah berlalu, bukankah itu berarti sesuatu? Bahwa kita selalu sanggup, bisa bertahan dan berdaya—jauh melebihi semua ketakutan atau ketidakyakinan kita. See, betapa seringnya kita meremehkan kekuatan kita sendiri dan betapa jarangnya kita berterima kasih kepada diri kita yang bukan hanya telah bertahan namun juga terus mengusahakan yang terbaik. Untuk mengatakan bahwa kita cukup. Dan kita akan selalu cukup di hari-hari ke depan yang entah bagaimana bentuknya nanti.

Selamat memasuki, 2020.
Atur semangatmu, kawan.  Sampai bertemu di ujung jalan!

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *