Ruang Bagi Mereka Yang Berbeda

Untuk sesuatu yang privat, bisakah seseorang digugat?

Seorang brigadir polisi di Semarang diberhentikan dengan tidak hormat karena preferensi seksualnya yang dianggap menyimpang—menyukai sesama jenis. Perihal pemecatan ini tentu saja menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Ma’ruf Bajammal dari LBH Masyarakat menyebutkan, “Tidak boleh ada diskriminasi yang terjadi terhadap siapapun. Termasuk orang-orang dengan orientasi seksual minoritas.”

Narasi yang dikembangkan mengenai LGBT (terutama dari hal-hal negatif, misalnya LGBT pasti adalah penyakit menular, atau kaum LGBT adalah pedofil, dan lain sebagainya) dianggap ikut mendorong lahirnya berbagai kebijakan diskriminatif dalam berbagai lini. Negara sering dianggap “absen dalam membela hak-hak warga negaranya—terlepas dari latarbelakang mereka, termasuk perihal orientasi seksual.
Pemberian Nama Bagi Mereka Yang “Berbeda”

Berdasarkan sejarahnya, penggunaan istilah homoseksual, gay, lesbian dan queer digunakan untuk menunjukkan ketertarikan pada jenis kelamin yang sama. Istilah homoseksual sendiri pertama digunakan pada 1868 oleh jurnalis berkebangsaan Jerman-Hungaria, Karoly Maria Kertbeny, dalam suratnya kepada pembela hak kaum gay di Jerman, Karl Heinrich Ulrichs—yang mereka gunakan sebagai istilah yang netral secara saintifik pada kampanye menentang kriminalisasi hubungan seksual antar-pria. Sebelum itu, hanya ada sedikit kata-kata netral untuk menggambarkan mereka yang mengalami ketertarikan romantis atau seksual terhadap orang lain yang berjenis kelamin sama—yang biasanya sarat dengan kutukan dan rasa malu. Tetapi ketika ilmu seksologi mulai berkembang, dan para pembela sesama jenis mulai berbicara tentang definisi cinta sesama jenis, dibutuhkan suatu terminologi baru untuk menggambarkan kehidupan dan perasaan mereka. Kata homoseksual digunakan pada akhir abad ke-19 sebagai pembeda orientasi antara kaum heteroseksual dan homoseksual. Pada masa-masa sebelumnya, termasuk dalam sebagian besar diskursus medis, homoseksualitas lebih dianggap sebagai perilaku seksual menyimpang—dan bukannya sebagai bentuk identitas; yang unik, suatu bentuk disposisi psikologis yang spesifik, suatu “aku” yang terpisah dari kategori heteroseksual.

Pada 1930-an, istilah gay—terutama di bar kaum gay menjadi populer. Secara bertahap, kata “gay” digunakan untuk menggantikan “queer”—yang artinya mulai berubah. Beberapa lelaki muda yang diidentifikasi diri mereka sebagai gay menganggap istilah queer sebagai merendahkan dan kasar sejak itu. Sepanjang tahun 1960an dan 1970an, bangkitnya gerakan pembebasan kaum gay di negara-negara barat. Di Indonesia sendiri, perdebatan tentang homoseksualitas menjadi wacana nasional, terutama ditandai dengan merebaknya beragam tulisan tentang homoseksualitas di berbagai media nasional, seperti Majalah Tempo, Liberty, Kartini, Anda, Puteri, hingga Harian Kompas rentang tahun 1981-1983. Penggunaan kata waria, bahkan pada era sebelumnya (1960-an) telah diterima oleh masyarakat seiring dengan berdirinya organisasi waria pertama, Himpunan Wadam Djakarta (Hiwad), yang didukung oleh Gubernur DKI Jakarta pada waktu itu, Ali Sadikin.

Mengapa akhirnya LGBT begitu ditakuti—terutama di beberapa kalangan tertentu yang menolaknya (selain berdasarkan agama, misalnya). Apakah ketakutan tentang LGBT sebagai suatu penyakit menular? Hal ini disangkal oleh ahli neuorologi, dr Ryu Hasan. Ia menjelaskan bahwa berdasarkan ilmu biologi dan neurosains terbaru, orientasi seksual tercetak dalam otak tiap individu dan merupakan selera seksual dari masing-masing individu. “Pada dasarnya, manusia itu bisa omniseksual. Jadi ada orang yang jenis kelaminnya laki-laki tapi feminin, tapi orientasi seksualnya heteroseksual, banyak seperti itu. Ada yang laki-laki, macho, tapi orientasinya homoseksual,” jelas Ryu. Di indonesia, Kementerian Kesehatan mengadopsi International Classification of Diseases (ICD) dan The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) standar klasfikasi penyakit mental yang digunakan oleh psikiater di banyak negara, menjadi Pedoman Penggolongan Diagnostik. Gangguan Jiwa (PPDGJ) yang telah di revisi tiga kali.
Adakah Solusi Bagi Kaum LGBTQ?

Kehadiran kaum minoritas LBGTQ sebagai bagian dari warga negara tentu tidak bisa diabaikan begitu saja mengenai pemenuhan hak-hak mereka. Sangat disayangkan apabila ketimbang diperlakukan secara bijak, kaum LGBTQ ini disudutkan, tidak diberi tempat dan tidak diakui kiprahnya di masyarakat—untuk hal-hal yang mereka lakukan di ruang privat. Di Aceh, pasangan gay dihukum cambuk secara terbuka, praktik rukyah, kampanye anti LGBTQ daan lain sebagainya. Para aparat dan pejabat publik juga diaggap sering bersikap tidak adil dan berat sebelah dalam membuat dan menegakkan hukum. Dengan pendekatan heteronormativitas, maka cara yang digunaan untuk menegakkan hukum pun bias heteronomativitas. Mereka tidak menggunakan pendekatan bahwa masalah orientasi adalah rights (hak asasi) seseorang yang bersifat otonom.

Walau mendapat tentangan keras dari masyarakat, hukum nasional di Indonesia, dalam hal ini Kitab Undang-Undang Hukum Pidana KUHP, tidak menganggap perbuatan homoseksual sebagai tindakan kriminal, selama tidak melanggar aturan hukum lain yang lebih spesifik, seperti hukum yang mengatur tentang perlindungan anak, kesusilaan, pornografi, pelacuran dan kejahatan pemerkosaan. Sehingga selama hanya dilakukan oleh orang dewasa (tidak melibatkan anak-anak atau remaja di bawah umur), dilakukan secara pribadi dan tidak ditempat umum, dilakukan bukan atas pemaksaan tidak dianggap sebagai tindakan kriminal.

Solusi yang mungkin bisa mejadi titik temu ditawarkan oleh Franz Magnis Suseno, yang meminta masyarakat untuk menghormati dan tidak melakukan ekspresi dan tindakan kebencian kepada mereka yang memiliki kecenderungan yang berbeda. Jumlah kaum LGBTQ yang hanya 10 persen, tentu saja sulit diterima oleh mayoritas penduduk dunia yang adalah kaum heteroseksual. Di sisi lain, Magnis juga menghimbau agar para kaum LGBT dapat menempatkan diri di masyarakat dan memperhatikan adat-isitiadat di tempat mereka tinggal dan berinteraksi secara sosial.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *