Kita Adalah “Yang Lain”

“Sejarah menunjukkan kepada kita bahwa laki-laki selalu mempertahankan kekuasaannya; sejak awal zaman masyarakat patrilineal, mereka sudah berpikir untuk mempertahankan agar perempuan selalu dalam keadaan tergantung; hukum dan peraturan diciptakan sedemikian rupa sehingga perempuan benar-benar dibedakan sebagai Sosok Yang Lain.”

Kutipan di atas merupakan refleksi dari penulis asal Prancis, Simone de Beauvoir dalam bukunya, Second Sex. Secara tegas, Beauvoir menyebutkan bahwa perempuan harus berjuang keras untuk mengukuhkan eksistensinya, karena posisinya yang melulu sebagai Sosok yang Lain (other) yang didefinisikan oleh budaya dan masyarakat—yang bertentangan dengan filsafat manusia itu sendiri, yang menempatkan manusia (terlepas dari gender-nya) adalah sebagai Subyek. Perjuangan perempuan untuk “mendapat tempat” bagi dirinya sendiri bukanlah suatu proses yang singkat, kadang memilukan dan menempatkan perempuan di sudut (jika tidak diabaikan keberadaannya) karena berhadapan dengan agama juga proses kebudayaan (yang sayangnya) sering tidak berada di pihak perempuan.

Perempuan Yang Selalu ‘Disembunyikan’
Setiap isu kesetaraan gender diangkat, maka pertanyaan yang mungkin sering terlintas adalah, “Bila laki-laki dan perempuan hadir ke dunia dalam suatu kesetaraan, bagaimana lantas perempuan akhirnya bisa menjadi Sosok Yang Lain? Dan bagaimana laki-laki selalu dimungkinkan menang sejak awal?” Friedrich Engels dalam bukunya The Origin of The Family, Private Property and the State menyebutkan bahwa sejarah perempuan bermula dari sesuatu yang sangat teknis. Pada zaman batu di mana semua anggota komunitas bekerja mengelola tanah dengan menggunakan alat-alat yang masih sangat tradisional, kekuatan perempuan terbatas pada pekerjaan yang ringan dan tugas-tugas rumah tangga, sementara kaum laki-laki pergi ke tempat-tempat yang jauh untuk berburu dan mencari makanan. Pekerjan ini seolah menegaskan dominasi laki-laki, sehingga tugas perempuan terasa remeh. Otoritas maternal pun beralih menjadi paternal, kepemilikian diwariskan kepada anak-anak lakinya. Laki-laki juga sekaligus menjadi pemilik perempuan. Hal yang oleh Beauvoir disebut sebagai, “kekalahan bersejarah yang besar dari kaum perempuan.”

Kesuburan perempuan pada komunitas masyarakat primitif, acap kali justru membawa bumerang, karena menghalanginya untuk berpartisipasi dalam meningkatkan sumber-sumber penghidupan yang ada—melainkan terus memunculkan kebutuhan-kebutuhan baru yang tidak terbatas (melahirkan anak). Sementara aktivitas awal laki-laki (berburu, mengalahkan alam, mencari makan, mendobrak keterbatasannya) rupanya memiliki dimensi lain yang memberinya kemuliaan tertinggi. Budaya patriarki memulai riwayat penindasannya terhadap perempuan dengan stigmatisasi negatif terhadap kebertubuhan perempuan. Unsur-unsur biologis pada tubuh perempuan dianggap hambatan untuk melakukan aktualisasi diri.

Peran agama, juga memberikan kontribusi yang tidak kecil terhadap penindasan terhadap perempuan. Di masa Kekristenan awal, peran perempuan lebih diarahkan sebagai penopang atau pendoa. Bahkan Paulus, dalam suratnya kepada Jemaat di Efesus tentang kewajiban suami dan kewajiban istri. Tradisi-tradisi ini terus berlangsung setidaknya sampai abad pertengahan, dimana perempuan berada dalam keadaan yang bergantung pada ayah atau suaminya. Menjelang abad 16, banyak perempuan memperdebatkan kasus kesetaraan gender, meskipun masih dalam kerangka agama.

Kehidupan perempuan yang melulu “tersembunyi” di dapur perlahan mulai berubah sejak berkembangnya sektor industri, berdirinya pabrik-pabrik yang membutuhkan banyak serapan tenaga kerja dan penemuan mesin-mesin di awal abad 19. Perempuan menemukan sedikit kebebasan dengan bekerja secara kolektif, bebas dari kendali orang tua dan untuk pertama kalinya menerima upah mingguan dari hasil keringat mereka sendiri. Sayangnya, perempuan kembali dieksploitasi. Meski bekerja sama keras, pekerja perempuan tidak pernah pulang dengan membawa cukup imbalan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kesadaran perempuan untuk berasosiasi bisa dibilang cukup lambat sehingga mereka sering tidak berdaya untuk menyerukan apa yang menjadi hak-hak mereka. Banyak gerakan yang dibentuk namun kemudian senyap, karena selain batas-batas yang mengekangnya, ternyata perempun kurang memiliki rasa solidaritas sebagai suatu kesatuan gender.

Baru pada pertengahan abad 19, kesadaran untuk melakukan berbagai perjuangan politik yang di mulai dari Inggris dan Eropa, yaitu gerakan yang memperjuangkan pendidikan yang lebih baik, perbaikan upah dan pekerjaan, serta kesetaraan posisi hukum setelah menikah. Gerakan-gerakan kaum perempuan pun menyebar sampai ke seluruh dunia.

Second Sex, merupakan hasil pemikiran penulis Prancis, Simone de Beauvoir yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1949. Dengan ucapan terkenalnya, “One is not born but becomes a woman” Beauvoir seakan menegaskan bahwa sumber mendasar penindasan wanita memang adalah konstruksi historis dan sosialnya.

Feminisme, tentu saja, bukanlah suatu perang gender— perempuan melawan laki-laki, melainkan sistem patriarki. Walau sudah melewati jalan-jalan panjang menuju kesetaraan, kita tidak bisa menutup mata bahwa penindasan, pembedaan dan seksisme masih ada. Pria dan wanita, kita harus menyadari bahwa kita masalah ini belum selesai, tidak akan diselesaikan dengan sendirinya oleh waktu atau “keajaiban”, melainkan perjuangan untuk memperbaiki masalah ini. Percakapan tentang gender memang tidak mudah untuk dilakukan, akan tetapi tidak bisa dihindarkan dan sangat butuh untuk dilakukan. Kita, pria dan wanita, walau kerap berseberangan, seharusnya tidak melihat satu sama lain sebagai lawan, melainkan kawan. Membangun kekuatan. Kemudian, berjalan beriringan.

Foto: wrpawprint.com

Chimamanda Ngozi Adhicie, seorang novelis feminis asal Nigeria, dalam esai pendek, We Should All be Feminist, menceritakan pengalamannya berinteraksi dengan penggemarnya tentang latar belakang feminisme yang kental ditemui pada karya-karyanya.

“Mengapa kata feminis? Mengapa tidak menyebutkan saja bahwa Anda          seorang  yang percaya pada hak asasi manusia, atau sesuatu seperti itu? Jawaban saya? Karena itu tidak jujur. Feminisme, tentu saja, adalah bagian dari hak asasi  manusia pada umumnya. Memilih untuk menggunakan             ungkapan yang tidak jelas  untuk hak asasi manusia adalah menyangkal masalah spesifik, khususnya  masalah gender. Itu sama saja menyangkal bahwa bukan wanita yang selama  berabad-abad ini telah menjadi korban dan dipinggirkan. Masalah ketidakadilan gender ini adalah masalah yang serius. Saya marah. Kita semua harus marah.  Kemarahan memiliki sejarah panjang dalam membawa perubahan positif. Tapi  saya juga berharap sekaligus sangat percaya pada kemampuan manusia untuk mengubah diri mereka menjadi manusia yang lebih baik.”

 

 

 

 

 

 

 

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *