Tentang Tirai Yang Dibiarkan Tertutup

Sejauh mana kau mau memberi,
sejauh mana kau mau mencari?

Lantas apakah yang akan kau lakukan dengan segala informasi?

Tidak membagi bukan berarti menyembunyikan.
Ada begitu banyak alasan mengapa tirai dibiarkan menutup sepanjang hari, walau terkadang
dikuak juga lebar-lebar
membiarkan serbuan cahaya pagi masuk

Untuk
mengusir sisa sisa lembap
dari tangis semalam
Atau melenyapkan aroma percintaan
dengan dia yang selalu kau puja dalam diam

Tidak ada yang rahasia
Semua terpampang di sana
Ketika bibir tidak bercerita,
toh tidak menjadikan seseorang pendusta
Bila saja kau mau melihat
lebih dekat

Hanya mungkin kita berdiri di titik yang berbeda
Memahami dengan cara yang berbeda
Kita melihat apa yang telah kulalui
dan bentangan jalan yang begitu asing buatmu,
dengan cara yang begitu  berseberangan

Namun,
biar kukatakan hal ini kepadamu
Bahwa kita bisa hidup baik-baik saja
Tanpa harus selalu berada di atas panggung
atau
berdiri di bawah guyuran sinar lampu
yang begitu menyilaukan

Kita bisa
mengumbar gelak,
tertawa akan hal-hal bodoh,
menjadi yang biasa-biasa saja,
anonim,
bayangan di antara kumpulan
dan kelak akan begitu mudah terlupakan

Tetap bahagia
walau hanya sedikit yang mengenal kita

Oh kawan,
sungguh kadang menjadi bukan siapa-siapa itu begitu melegakan
Kau bisa menjadi apa saja
dan siapa saja
tanpa harus berutang penjelasan
Kau bisa mempertaruhkan banyak hal
tanpa didera rasa takut kehilangan

Kehilangan muka,
kehilangan harga diri,
kehilangan reputasi
yang sesungguhnya semua hanyalah  bangunan semu
yang dibangun manusia di atas pasir

Aku telah lama bangun dan tersadar
Aku telah membuka topengku
namun kau tak cukup mengenaliku
Bukan wajahku, tapi alasanku

Karena hanya dengan datang telanjang
aku bisa belajar darimu
Menapaki hal-hal yang dulu terlewatkan
karena  aku berjalan terlalu cepat,
melompat terlalu jauh
atau mendaki terlalu tinggi

Karena hanya dengan kekosonganku,
aku bisa memaknai daya juangmu
juga kenaifanmu
Menyaksikanmu bergumul dengan egomu
Kemewahan yang dulu sempat kumiliki,
namun kini kubungkam
dengan berlaksa-laksa kompromi
atas nama menjadi dewasa

Terimakasih telah membuka pintu
dan membiarkanku masuk
mengizinkanku mereguk

Mendekatlah,
sudah berapa lama kau berdiri mengamat-amati?
Masuklah,
tarik bangkumu dan duduk rapat dekatku
Tak perlu kau sibak paksa tirai itu
Sekarang dengarkanlah
hal-hal yang akan kuceritakan kepadamu…

Photo: A house in Kawasaki, Spring 2017.

Share

1 thought on “Tentang Tirai Yang Dibiarkan Tertutup”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *