Tentang Kehilangan dan Kelak Yang Mungkin Tak Akan Datang

SAAT kehilangan orang yang kita kasihi, saat itu kita baru tersadar, dan mata kita baru terbuka tentang betapa berharganya waktu. Lantas, tanpa bisa ditahan, kepala kita akan memutar kisah-kisah lalu yang pernah kita habiskan bersama dengan mereka, yang pergi telah pergi; baik, buruk, manis, pahit, semua.

Lantas, lahir juga pikiran-pikiran tentang “seandainya” atau “seharusnya” dan bukannya tidak mungkin penyesalan-penyesalan yang lahir belakangan.

Tujuh belas tahun lalu, saya kehilangan ayah karena penyakit kanker. Di saat itu, saya merasa ada penyesalan yang mengendap dalam diri saya selama bertahun-tahun. Tentang bagaimana seharusnya saya menemaninya lebih banyak di rumah sakit, atau saat di mana saya memilih membeli soto pesanannya di warung terdekat hanya karena saya malas menempuh perjalanan lebih jauh di warung soto favoritnya.

Di minggu-minggu terakhir sebelum berpulang, bahkan saya sempat tidak mengunjunginya selama beberapa hari karena saya disibukkan dengan tugas menjadi chaperon di suatu acara pemilihan sampul majalah tempat kerja pertama saya bertahun lalu. Menengok ke belakang, saya sadar, sedalam apapun saya menyesali, waktu-waktu itu toh tak akan kembali lagi. Waktu saya bersama ayah telah usai, menyisakan hanya memori (dan terkadang penyesalan) yang tergenang-genang.

Dalam perbincangan hangat dengan seorang sahabat—secara reflektif, dia mengakui bahwa hubungannya dengan sang mantan seharusnya bisa dipertahankan seandainya dia tidak menghamburkan waktu kebersamaan mereka yang kala itu sangat terbatas dengan berbagai kecurigaan, rasa cemburu dan tuntutan-tuntutan yang akhirnya membuat sang mantan jemu dan memutuskan berlalu.

Kita kadang memang begitu naif. Berpikir bahwa waktu adalah milik kita. Kita yang dengan lancang berpikir bahwa toh kita hanya menunda sedikit dan  bisa menebusnya kembali kapan saja.Adalah kita yang berharap semuanya akan baik-baik saja bersama waktu.

Bagaimana kalau waktu bernama kelak itu tidak pernah datang? Bagaimana kalau kesempatan yang kita lewatkan untuk mengasihi orang terdekat sebenarnya adalah waktu-waktu terakhir yang kita miliki bersama mereka ? Dan terlebih dari itu, bagaimana bila waktu tidak pernah memberikan kesempatan kita untuk memperbaiki segalanya?

Bukankah waktu, melesat seperti peluru dan tidak ada yang  dapat menghentikan lajunya?

Saya tidak punya kalimat bijak untuk menasihati atau membebat perasaan yang kosong karena kehilangan, kalaupun ada mungkin hanya sesingkat ini: nikmati hari hidupmu dengan sebaik-baiknya dan perlakukan mereka yang kau kasihi dengan sebaik-baiknya.

Selamat mengarungi waktu, kawan.

 

 

 

 

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *