Jejak Haruki Murakami di Koenji

Merasa penat dengan daerah sesak turis seperti Shibuya dan Harajuku (apalagi kalau ketemunya orang Indonesia melulu juga)? Terimakasih pada Haruki Murakami yang memperkenalkan tempat baru bernama Koenji.

Akhir Juli tahun ini, saya kembali dapat kesempatan mengunjungi Jepang. Beda dengan tahun lalu, perjalanan kali ini berlabe; #birthdaystrip bareng suami dan beberapa sahabat dari ITB yang kebetulan memperpanjang kunjungan mereka ke Jepang paskaseminar internasional di Tokyo.

Karena waktu efektifnya cuma 5 hari (minus 2 hari perjalanan PP), maka kami memutuskan buat menjelajah Tokyo saja. Keputusan yang tepat mengingat Jepang sedang dilanda heatwave yang ampun-ampunan. 41,1 derajat!

Walau sudah lumayan biasa panas-panasan, ternyata tropical girl kayak saya bertekuk lutut juga ketemu matahari yang santer banget. Sebentar-sebentar harus ngadem dan banyak minum; kalau mau survive dan nggak keliyengan. Sempat merasa pilih momen liburan juga sih awalnya, karena namanya traveling kan identik dengan eksplorasi dan eksplorasi versi kami ya banyak-banyak jalan kaki. Tapi the show must go on lah ya. Setelah beberapa hari awal “temu kangen” dengan daerah-daerah padat turis, di hari terakhir kami kebagian rejeki cuaca yang agak adem dan membuat kami kembali bisa melanjutkan hobi jalan kaki kami.

Buku ini yang mengantarkan kami ke Koenji.
Toko buku ini bukunya diletakkan begitu saja di depan sehingga orang yang lalu-lalang bisa nyomot baca-baca.

Beberapa minggu sebelum ke Jepang, sebenarnya saya sedang membaca salah satu buku “gendut” Haruki Murakami yang berjudul IQ84. Tebalnya memang nggak kira-kira…1318 halaman! Buku yang bahkan sampai tulisan ini dibuat masih mencapai halaman 900-an karena keburu masa liburan berakhir dan kembali ke tugas baca buku teks kuliah yang njelimet dan bertumpuk (maafkan aku Goodreads Challenge!). Kembali ke buku Murakami, ada satu daerah yang dijadikan setting sang tokoh sentral, yang setelah saya telusuri di google, ternyata merupakan salah satu kota yang artsy, laid back,  dan konon jadi cikal bakal lahirnya musik punk di Jepang.

 

Mencapai Koenji tidak sukar, hanya beberapa perhentian dari stasiun supersibuk, Shinjuku (tergantung naik line yang mana), turun melalui escalator dan silahkan pilih mau belok ke kiri atau ke kanan, karena kawasan ini menyuguhkan aneka toko-toko vintage dan secondhand (dari baju, sepatu , sampai mainan), convenient stores, kedai takoyaki, toko buku dan pelat dan bar-bar yang (sayangnya) belum buka karena masih terlalu sore (bar-bar di Koenji biasanya buka di atas jam enam sore dan dikelola anak-anak muda usia 20-30an). Kenapa rasanya langsung “klik” di Koenji, karena kawasan ini memenuhi kriteria kami tentang tujuan liburan: nggak padat turis, toko-toko yang santai dan punya personality, dan tentunya nggak bising, namanya juga anti tourist tourist club.

Walau nggak sempat belanja (kecuali takoyaki dekat stasiun) karena keburu janjian dinner dengan teman kami, Sarah Silaban di Ueno, setidaknya kami sempat puas cuci mata di toko mainan second yang menjual action figure dengan harga supermiring. Sayangnya, di saat itu pula baterai saya…die, die, die. Well, until next time, Koenji!

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *