Membereskan Keuangan di Usia 30an

Not so young but at least not broke.

Di usia 30 tahunan ke atas, seharusnya kita sudah diharapkan memasuki masa kebebasan (atau setidaknya keteraturan) finansial. Menurut saya sih hal ini nggak melulu ditandai dengan kepemilikan barang-barang seperti properti atau mobil, punya investasi dan deposito harus sekian. Yang paling mendasar dulu deh, bebas hutang (tidak produktif) dan punya dana yang mencukupi untuk hidup sejahtera di usia pensiun nanti.

Tentu saja banyak yang menyetujui statement di atas. Kerja keras di usia muda, sejahtera di usia tua, mati (semoga) masuk surga. Kenyataannya, nggak semua bisa mempraktikkan gaya hidup yang mengarah pada kebebasan finansial tersebut. Dari yang gajinya hanya satu digit sampai triple digit, ternyata banyak yang “berantakan” dalam urusan keuangan. Saya juga begitu, setidaknya sampai dua tahun lalu. Dosa-dosa saya antara lain; tidak punya perencanaan keuangan, menabung seingatnya dan seadanya, semena-mena menggunakan kartu kredit dan membelanjakan uang dengan seenak-enaknya—bahkan untuk hal-hal yang selama ini saya pikir baik sekalipun.

Katanya, setiap orang akan sadar pada waktunya masing-masing. Momen sadar saya datang ketika menghadapi kebangkrutan personal, bisnis lama yang jalan di tempat serta fakta bahwa usia saya dan pasangan tidak bertambah muda. Khusus poin yang terakhirm terus terang itu yang paing membuat bergidik ngeri. Sekarang mungkin masih produktif, masih kuat kerja lembur dan ambil proyek ini-itu, hari ini terima bayaran dan langsung dihabiskan juga rasanya nggak ngerasa berdosa-dosa amat. There will always be new projects (karena saya wiraswasta)—atau setidaknya masih ada gaji yang akan terbit tiap akhir bulan (dari suami). Tapi kalau dipikir-pikir lebih mendalam, sampai sekuat mana sih kita bisa bekerja? Suatu saat suami saya akan masuk usia pendiun, dan untuk bisnis—pertanyaannya apakah bisnis yang saya jalani saat ini masih berjalan atau setidaknya relevan 20-30 tahun lagi? Kalau sudah masuk usia pensiun nanti, mau minta bantuan ke siapa—especially to a childless couple like us—ke sanak saudara? Tentu saja tidak. Mengingat semua orang bertanggungjawab terhadap hidupnya sendiri maka jawabannya adalah: ya diri sendiri.

Berbekal kesadaran dan melahap habis buku-buku panduan keuangan (iya, sampai segitunya), akhirnya saya dan pasangan sepakat untuk membenahi keuangan kami. Menengok ke belakang, memang banyak keputusan finansial yang kami sesali, tepatnya BANYAK BANGET. Tapi kalau mau diambil pelajarannya, kami belajar bahwa kesalahan-kesalahan tersebut semata-mata karena kami tidak memiliki perencanaan keuangan yang baik dan tidak memisahkan unsur emosional dalam perilaku spending/giving kami. Walau sudah “bertobat”, tentu saja kami masih dalam tahap “trial-error”, alan tetapi ada beberapa langkah penting yang kami ambil dan praktikkan dalam kehidupan sadar finansial kami yang baru. Antara lain;

  1. Buat rencana keuangan. Ini penting karena merupakan jangkar dari semua tujuan perencanaan keuangan kita. Ibaratnya kalau punya tujuan, perjalanan juga akan lebih tertata. Bagaimana sampai ke sana—dan kapan sampai ke sana? Tujuan keuangan setiap orang (atau keluarga) bisa bermacam-macam. Mulai dari nabung untuk menikah, punya kendaraan, punya rumah, pendidikan, liburan sampai tabungan untuk hari tua. Begitu sudah tahu masing-masing tujuan, maka caranya akan lebih mudah. Berapa pos tabungan yang harus dibuat? Instrumen investasi apa yang harus dipilih untuk mencapai jumlah yang diinginkan? Berapa yang harus disisihkan setiap bulan atau setiap menerima bayaran proyek?
  2. Menabung tidak pernah cukup—ujar semua buku panduan finansial yang saya baca. Ada benarnya. Karena uang kita akan selalu tergerus inflasi. Jalan keluarnya? Tentu saja investasi. Silahkan dibaca dan dipilih sendiri, mana yang paling nyaman. Apakah mau membeli reksa dana, membeli emas—atau kalau punya uang lebih bisa juga dengan membeli properti dan tanah atau membuat suatu bisnis. Tergantung kebutuhan nyali masing-masing. Intinya, do something with your hard earned money!

  3. Jangan lupakan 3 hal mendasar sebelum investasi: miliki dana darurat, asuransi kesehatan dan asuransi jiwa (terutama untuk yang memiliki anak dan pencari nafkah utama). Berapa besar dana daurat? Jumlah pengeluaran dalam satu bulan dikali tiga (bila Anda masih di bawah 30 tahun), dan dikali 6 (bila berusia di atas 30 tahun dan sudah berkeluarga) dan untuk orang yang mudah cemas seperti saya, tentu saja untuk dikali 12. Tidak ada kata berlebihan untuk situasi darurat. Well, you know, just in case…

  4. Catat pemasukan dan pengeluaran. SETIAP HARI. Ini paling adalah hal yang paling malesin tapi sebenarnya the root of all evils. Saya nggak pernah sadar begitu besarnya pengeluaran untuk jajan-jajan kurang berfaedah sampai saya mulai mencatat rutin pengeluaran. Setelah mencatat di excel, barulah terpampang data tentang pos mana yag sebenarnya bisa dikurangi atau dihilangkan sama sekali (kayak mampir-mampir toko buku padahal minggu lalunya baru aja beli buku juga. Doh!)
  5. Ada satu kutipan dari buku yang saya baca, “bukan pemasukan yang kekecilan, tapi gaya spending-mu yang kebesaran” Ini sih bukan lagi nyindir, tapi nampar. Waktu masih tercatat sebagai pegawai korporasi, bisa dibilang tiada wekend yang terlewat tanpa beli baju, tas, sepatu, anting-anting atau makeup baru. Did I really need those stuffs? Tentu saja nggak. Wong ke kantor pakai seragam, mau digayain kayak gimana ya paling mentok di urusan aksesori dan sepatu. Gaji berapa besar pun rasanya nggak akan cukup buat membiayai gaya hidup—karena biasanya nih, gaya hidup ikut meningkat seiring dengan pendapatan yang juga meningkat.Setelah bekerja sendiri, kebutuhan beli-beli barang baru lumayan jauh berkurang, apalagi sejak mempraktikkan gaya hidup minimalis. Setiap dihadapkan dengan barang yang menggoda, saya berkali mikir, “Do I really need it or do I just want it to boost my ego?” Fakta tinggal di rumah kecil juga lumayan membantu sih. Setiap barang harus setidaknya memberi manfaat atau kebahagiaan, kalau nggak? Bhay. Nah, karena capek menyingkirkan barang-barang ini juga yang bikin saya mikir lamaaaaa banget setiap mau beli barang baru (di luar buku tentu saja, lagi-lagi!).
  6. Kebutuhan orang lain bukan kebutuhan kita, demikian juga sebaliknya. Jadi nggak usah maksain—atau MERASA butuh padahal nggak. Kadang ya, hanya karena kita lihat orang lain membeli barang tertentu, lantas kita ikut-ikutan latah membeli juga—hanya karena kita pikir itu sudah sewajarnya. Misalnya saja tas merek tertentu (biar lebih presentable kalau ketemu klien) atau membership gym (yang lebih sering jadi tabungan buat gym karena jarang dipakai) atau di kasus saya adalah kepemilikan mobil. Sejak tinggal di pinggir kota dan kemudian banyak hadir transportasi online, saya melepas opsi untuk memiliki kendaraan pribadi. Mobil terakhir kami dijual tahun 2013—dan kami resmi naik transportasi publik kemana-mana. Dari ojek, kereta atau taksi saat lagi (sok) tajir atau malas bau matahari. Sejak itu pula kami nggak perlu memikirkan biaya perawatan, bensin, parkir dan lain sebagainya. Setiap ditanya teman, “lu nggak pengen punya mobil lagi?” Saya cuma menggeleng sambil senyum-senyum. Masih kebayang pegelnya betis saat harus nyetir tiga jam dari pinggir kota ke tengah kota trus balik lagi ke pinggir kota. Transmisi manual pula. Tapi itu saya, buat yang harus bolak-balik antar anak sekolah mungkin perlu buat punya mobil pribadi, monggo. Sekali lagi, kebutuhan setiap orang/keluarga beda-beda.
  7. Singkirkan segala hal yang mengganggu terwujudnya rencana keuangan. Nah ini, banyak banget dan hadir dalam berbagai bentuk. Masih merasa lemah dengan godaan belanja? Nggak usah follow akun-akun jualan yang punya kemampuan menjebol pertahanan (dompet) kita. Unsubscribe dari email-email mereka juga—apalagi yang suka nawar-nawarin diskon. Saya juga meng-unfollow banyak selebgram yang rajin di-endorse barang-barang yang cenderung bikin ngiler. These people and accounts are still there, kalau mau nengok sesekali boleh lah. Cuma kalau tiap pagi “diracuni” buat beli, lama-lama bisa goyah nggak sih? Bila ada yang mencibir, kasian ih nggak pernah belanja atau kurang piknik, ya cuekin aja. Sebenarnya kita tetap belanja atau jalan-jalan kok, bedanya ya nggak impulsif aja. Balik lagi ke poin pertama: semua serba terencana dan ada pos-posnya.Hal lain yang sering bikin kita jadi batal menyisihkan uang buat menabung atau investasi adalah faktor kehidupan sosial dan bermasyarakat. Sebagai contoh, teman atau saudara yang meminta pinjaman (melulu) padahal dana tersebut kita sudah jadwalkan untuk pos A, B, C dan D. Trus, kasih atau nggak? Trust your gut. Apakah kondisinya benar-benar mendesak—atau untuk keperluan yang konsumtif? Apakah dia tipe yang membayar tepat waktu? Atau dia masuk golongan yang akhirnya membuat kita dihadapkan pada realita “hanya memberi dan tak harap kembali”?

    Berdasarkan pengalaman, saya memang paling sering kecele dengan jenis peminjam yang terakhir. Campur aduk antara perasaan kasihan, nggak enak tapi juga nggak iklas, karena ujung-ujungnya sering kita sendiri yang repot dan makan hati. Belakangan saya bilang terang-terangan kalau memang tidak akan meminjamkan. “Sori, lagi nggak bisa minjemin.” That’s it. Nggak perlu menjelaskan macam-macam dengan berbagai alasan. Buat apa? That’s your money and whatever you’re going to do with the money is entirely up to you.

  8. Cari solusi untuk bisa konsisten dan cari alternatif paling murah untuk semuanya. Sebagai konsumen, kita memang serba dimanja di era digital ini. Semua tinggal memilih di layar dan tinggal dipesan secara online. Walau ada beberapa toko online yang sebaiknya dihindari bila masih sering tergoda, tapi ada baiknya membeli beberapa kebutuhan via online atas nama efisiensi dan semata karena mereka menawarkan penawaran yang bagus, misalnya saja berbelanja lewat Hadiah.Me yang rajin memberikan cashback dan promo menarik di situs-situs belanja favorit. Lumayan banget, sih.  Apalagi kategori yang ditawarkan juga lumayan banyak, dari belanja kebutuhan sehari-hari sampai merchant-merchant asuransi dan keuangan.

Intinya, tidak pernah ada kata terlambat untuk membenahi perilaku kita terhadap uang. Not even when you’re already in your 30s.

Masalahnya, mau nggak?

 

 

 

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *