Karier Kedua

Memasuki karier kedua tidak harus menunggu masuk masa pensiun atau…PHK!

Setelah bekerja sekian lama di suatu tempat atau suatu bidang, bukannya tidak mungkin ketika akhirnya kita merasakan dorongan untuk keluar dari “kemapanan” dan memulai suatu pekerjaan yang baru, yang lebih menantang atau (menurut kita) lebih sesuai dengan minat dan kata hati.

Di era orangtua kita, rata-rata setiap orang memiliki karier yang bisa dibilang lumayan “abadi” di suatu perusahaan. Dalam arti, mereka bukan hanya memulai karier pertama mereka di tempat tersebut, tapi juga mengalami kenaikan jabatan, promosi, berproses dengan segala perubahan yang terjadi baik internal maupun eksternal—sampai akhirnya memasuki masa pensiun.

Semakin besar perusahaan tempat mereka bekerja, maka biasanya akan semakin besar pula tunjangan dan fasilitas yang diterima oleh seorang karyawan. Mengapa harus cari yang lain? Tidak heran apabila angka kepindahan karyawan pun rendah. Seperti almarhum ayah saya, yang memulai kariernya di suatu bank, sampai akhirnya bank tersebut mengalami merjer dan dia mengambil pensiun dini. Total dihitung, 35 tahun masa bakti!

Akan tetapi dunia kerja terus berubah. “Angkatan tua”, kecuali mereka sangat ahli dan profesional di bidangnya, semakin lama terus menyingkir (dan tersingkir). Dunia kerja yang dikuasai oleh gen X dan gen Y saat ini memiliki karakteristik kompetisi yang berjalan tanpa ampun dan tidak main-main. Perusahaan baru kian banyak bermunculan, jam kerja padat (hello lembur, my old friend!) sangat agresif dan dinamis. Tidak ada ruang buat bermalas-malasan, apalagi mereka yang hanya mengandalkan gaji bulanan tanpa benar-benar mau bekerja terlalu keras—jangankan promosi, karier mereka pun tidak akan lama.

Untuk Siapa Karier Kedua?
Saat memulai karier pertama dulu, mungkin kita tidak memiliki terlalu banyak pilihan. tidak sedikit juga dari kita yang “terpaksa” kuliah dan akhirnya bekerja di bidang yang tidak terlalu diminati—atas permintaan orangtua atau orang terdekat kita. Terlanjur tercebur, seiring dengan waktu dan bertambahnya pengalaman, kita pun menjadi pakar di bidang tersebut. Sebutlah kita memulai karier di usia 23-25 tahun, maka pada rentang 10 tahun, setidaknya kita sudah mencapai posisi senior atau manajerial. Detail dan tahapan kerja bisa dibilang telah kita pahami luar kepala, kita sudah dipercaya memiliki anak buah dan memiliki jejaring yang cukup dalam bidang terkait.

Akan tetapi, tidak semua merasa cukup nyaman untuk meneruskan “jalan aman” yang telah dirintis tersebut. Tidak sedikit yang merasa jenuh, burn out, dan merasa bahwa sekarang adalah waktu yang tepat untuk memulai karier dan kehidupan yang baru—merekalah yang biasanya akan mempertimbangkan kemungkinan untuk memiliki karier kedua ini. Saat kita mengklik tentang karier kedua di laman pencarian google, jangan kaget ketika menemukan setidaknya ada 20 ribuan tautan tentang starting over di atas usia 35 tahun. Ternyata, ada begitu banyak profesional yang berbagi keresahan yang sama.

Merencanakan Karier Kedua
Rhenald Kasali, penulis dan Guru Besar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia menyebutkan bahwa diperlukan perencanaan yang tinggi sebelum memulai karier kedua. “Karier kedua biasanya tidak senyaman hidup di ujung karier pertama. Berapapun usia kita, di awal karier kedua kita adalah yunior yang tengah berevolusi. Kita akan mengalami masa-masa sulit yang kadang membuat frustrasi. Harap diingat, tidak ada keberhasilan tanpa manajemen rasa frustrasi yang baik,” ujarnya.

Lantas, apa yang harus dicamkan sebelum membuat keputusan untuk mengambil karier kedua?

  • Karier kedua adalah saat yang tepat untuk bekerja sesuai dengan minat dan potensi yang ada dalam diri kita—termasuk hobi yang dulu kita pikir tidak akan membawa manfaat secara ekonomi. Coba duduk dan lakukan pemetaan terhadap karier yang yang hendak kita tuju. Apakah kita memiliki peluang dan kesempatan untuk berkembang, bagaimana dengan kesuksesan dan kegagalan—sebagai risiko yang harus diterima—apakah kita siap?
  • Hitung aset. Namanya memulai sesuatu dari bawah, kita tidak bisa mengharapkan kesuksesan instan. Pastikan penghasilan kita cukup selama 6-12 bulan ke depan, selama kita melakukan “trial-error” dengan karier kedua ini. Jangan sampai kehidupan pribadi—atau orang-orang yang bergantung dengan kita terganggu karena keputusan yang kita ambil.
  • Siap bersaing. Selalu ada tantangan dalam bidang apapun yang kita pilih. Salah satu yang akan kita rasakan, apabila kita berpindah perusahaan, mungkin bersaing dengan tenaga kerja yang lebih muda, lebih bersemangat dan lebih memiliki energi—atau bila kita memutuskan untuk berbisnis, kita akan merasakan kerja keras dan banting tulang tanpa embel-embel jabatan dan nama perusahaan besar yang menaungi kita sebelumnya. Bekerja keras dan bekerja pintar.

    Now, Are you game?

 

Foto: Dok DailySylvia.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *