Aku dan Kamu Melawan Dunia

Sebuah refleksi perempuan akhir 30an setelah menonton film tentang remaja 90an.

Ketika linimasa medsos dibanjiri kutipan, kritikan dam pujian tentang film Dilan 1990, saya tidak lantas ikutan latah bergegas ke bioskop untuk menonton film yang diangkat dari novel Pidi Baiq ini. Alasannya ada dua, saya selalu berpikir film remaja kita tidaklah pernah mewakili remaja saat ini (mulai dari pamer kemewahan sampai pamer kekerasan) sehingga saya selalu skipped kalau ada film bertema remaja. Unless sang penulis punya kemampuan mengemas cerita Ala John Green atau Nicola Yoon tentang kisah remaja yang real dan mumpuni (setidaknya di US sana), saya males.

Kedua, saat saya mulai ‘terpancing’ untuk menonton, sekeliling saya rupanya memiliki apatisme yang kurang lebih mirip, “Bok, macam gak ada film lain gitu?”

Ide untuk nonton Dilan kembali tercetus ketika sedang makan malam bersama sahabat saya, Indah, beberapa hari lalu. Dengan antusias, Indah bilang bahwa film Dilan 1990 adalah salah satu film yang wajib ditonton karena after effect-nya yang bikin happy. Dia bilang film ini beda dari jenis jenis film tentang remaja yg sebelumnya. “Lo jangan berharap alur cerita yang terlalu berat. Ini film kenyes-kenyes cupu gitu, tapi pas abis nonton lo pasti ngerasain semua perasaan lo waktu abg dulu keluar lagi.” Hm, boljug.

Indah menawarkan kalau dia juga nggak keberatan menonton ulang karena saat pertama menonton dia duduk di bangku nomor dua dari depan. Sehingga lehernya cukup kaku karena terus mendongak selama hampir dua jam.

Akhirnya semalam kami janjian lagi di suatu mal di kawasan Kuningan, tempat yang lumayan strategis dari lokasi aktivitas kami berdua. Karena bisa datang lebih cepat, kami sepakat bahwa saya yang akan membeli tiket dan mengamankan posisi nonton paling nyaman. Tiga jam sebelum waktu pertunjukan, setelah sebulan tayang, ternyata bioskop masih penuh. Setidaknya hanya ada dua atau tiga bangku di baris paling depan yang tidak diisi penonton.

Mengambil setting Bandung di tahun 90an serta semua hal-hal yang happening di era itu, tentu saja membuat saya dan Indah senyum-senyum sekaligus mesem-mesem sendiri, sesekali mengomentari rayuan gombal Dilan serta strategi pdkt yang kalau dilihat dari kacamata sekarang kayaknya apose deh lu tong, cupu bener. Film kayak gini kok bisa meraup enam juta lebih penonton sih?

“Sini aku saja yang pegang dagumu, biar nggak berat…”

Film yang baik tentu tidak berhenti di sinematografi yang baik; atau semirip apa setting yang dipersiapkan oleh tim art dengan setting kisah tersebut berlangsung. Terlepas dari beberapa kekurangan teknis (yang bertaburan di blog-blog kritik profesional sampai amatiran), film yang baik menurut saya harus bisa berefleksi bersama penontonnya. Saya pikir di sinilah letak kesuksesan film Dilan 1990.

Kisah cinta Dilan dan Milea yang sederhana dan cenderung cupu ini seakan membuka kotak memori yang sudah di tutup rapat-rapat dan tinggalkan di suatu sudut berdebu ingatan kita. Sontak saja perasaan Milea yang malu-malu sekaligus dagdidug ketika didekati Dilan mengingatkan kita akan perasaan kita sendiri ketika kecengan di kelas sebelah lewat, melempar senyum atau tiba-tiba ngajak pulang bareng. Atau tentang betapa kita pernah menatap telepon dengan penuh kerinduan dan harap-harap cemas, siapa tahu si gebetan atau pacar menelepon.

Kata Indah, film ini bikin dia rindu akan pria-pria kreatif, berjiwa tengil dan pastinya bernyali. Yang mau susah mengumpulkan koin atau memikirkan topik buat ngobrol di telepon; yang berani menghadapi bapak si cewek dengan datang ke rumah. Mengamini pendapat Indah, Cici  sahabat saya yang lain, pernah bilang kalau film ini mengingatkannya akan suatu masa ketika untuk mendapatkan pacar dibutuhkan usaha keras yang nyata; bukan sekadar stalking di medsos atau chatting di messenger yang dingin dan minim ekspresi.

Buat saya sendiri, film ini rasanya manis karena kisah cinta remaja selalu hopeful dan patriotik; aku dan kamu melawan dunia (setidaknya untuk saat itu). Seperti kalimat ini, “Jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti, besoknya, orang itu akan hilang!” (walaupun sebenernya ketimbang merasa sweet, saya merasa kalimat ini lebih seperti ancaman oknum militer di era Orba, ya nggak sih? LOL)

Film ini seakan mengingatkan saya bahwa hidup pernah begitu manis dan sederhana. Lihat saja kerikil-kerikil dalam hidup Dilan, Milea dan mungkin juga kita di usia mereka; peraturan sekolah yang menyebalkan, tawuran antarsekolah, orang-orang dewasa di sekitar yang nggak mengerti perasaan kita, taksir-taksiran, cemburu padahal status masih kecengan dan di mata mereka (juga kita) masalah-masalah tersebut terasa SEGALANYA.

Kelak kita tahu bahwa urusan mau kerja atau cari kerja dimana lebih besar daripada urusan mau makan bakso di mana; atau kenapa jam segini belum ditelepon juga. Kita juga tersadarkan bahwa cinta ketika matang dan berbuah juga menimbulkan berbagai konsekuensi, baik secara administratif juga ekonomi.

Aku dan kamu melawan dunia bukan lagi sekadar semangat, tapi juga harus diwujudkan dalam bentuk pendidikan, pekerjaan dan status sosial yang setidaknya setara, agar kita tetap bisa bersama. Cinta tidak pernah  lagi sesederhana ketika kita memulainya, di usia Dilan dan Milea. Cinta yang dulu begitu kita puja dan anggap segalanya juga bisa hambar dan basi, karena kita telah tumbuh menjadi pribadi yang berbeda; dengan pengalaman-pengalaman yang telah menanduk rasa percaya diri atau memukul hancur sebagian besar optimisme kita.

Mungkin realita-realita itulah yang membuat masa lalu jadi terasa begitu manis untuk dikenang. Masa lalu yang dihadirkan oleh sosok Melia dan Dilan.

Saat lampu bioskop menyala, beberapa orang berdiri berkelompok dan berfoto bersama; rupanya acara nobar Dilan 1990 dijadikan kesempatan untuk reuni dan mengenang masa-masa yang sudah lewat.   Seperti saya, mungkin mereka juga lupa mencatat tentang bagaimana waktu bergerak begitu cepat dan telah mengubah mereka menjadi orang yang sama sekali berbeda. Thanks to our struggles, our pain, our bad choices. Akan tetapi dalam sepersekian detik, selama menonton, mungkin mereka (seperti saya semalam) pernah mengingat akan satu hal ini. Tentang bagaimana kita pernah begitu bebas dan dengan begitu gagah (atau jemawa) berujar:

“Tidak ada yang bisa patahkan kita, inilah aku dan kamu melawan dunia.”

 

Share

1 thought on “Aku dan Kamu Melawan Dunia”

  1. Bangetttttt. Perasaan kok Dilan ngeliatin Melia, tapi gue yang baper dan GR sendiri, hahaha udah nggak bener deh ini (sambil liat KTP). Tapi film ini manis banget sih emang, bikin banyak kekurangan teknis sana-sini jadi termaafkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *