Hampir Milenial

Mereka ada di bilik-bilik kantor, membagi waktu antara tanggung jawab profesi, peran di masyarakat, keluarga dan segala ikatannya. Terengah-engah mengikuti arus zaman dan tren kekinian. Mereka adalah kita, kamu dan saya—yang hanya seiris tipis dari generasi milenial.

Milenial: Tidak bisa hidup dengan mereka—tidak bisa hidup tanpa mereka. Bila disimak, saat ini segala hal adalah tentang mereka. Bagaimana memasarkan produk untuk kaum milenial, tip-tip berhadapan dengan milenial, dan lain sebagainya.

Tentu saja, karena generasi milenial (yang lahir antara rentang 1980- 2000) mengepung setiap sisi hidup kita. Adik bontot, bawahan di kantor, kolega, pelaku seni, dan semua yang wara-wiri di media pemberitaan setiap hari. Mereka adalah penggerak, pasar yang besar, sekaligus calon penentu kebijakan dalam berbagai bidang kehidupan.

Kita, Si Jelang Tua
Sementara kita? Kita adalah generasi X yang lahir dari rentang waktu 1965-1979 yang bila mengikuti garis hidup linear, mungkin sekarang posisi kita adalah kepala divisi, direktur sampai pengusaha yang sudah memiliki usaha yang cukup sustain. Beberapa dari kita sudah menikah (atau bercerai; atau memasuki pernikahan kedua), memiliki anak-anak yag sudah duduk di sekolah dasar atau menengah pertama; akhir pekan kita diisi dengan acara keluarga, belanja bulanan, membawa hewan kesayangan ke dokter, mengantar anak les renang—dan mungkin satu-satunya leisure time yang bisa kita nikmati. Beberapa dari kita masih mencoba relevan dengan menjadi tech-savvy

Kita yang menikmati masa kejayaan kaset, CD namun sekarang tak ketinggalan memiliki akun di Spotify. Kita yang sempat merasa betapa kerennya memiliki kamera DSLR lengkap dengan lensa dan pernak-perniknya sebelum semuanya terpangkas oleh kepraktisan iPhone dan fitur-fiturnya.

Kita yang pada awal karier “dididik” keras oleh Gen X—atau Baby Boomer, mungkin terkaget-kaget mendapati bawahan atau calon karyawan/anak magang di kantor yang sibuk dengan socmed, menyampaikan ide secara meledak-ledak. Karier saya didahului oleh kerja magang di tempat yang berbeda. Di tahun awal 2000-an, tentu mencari tempat magang tidak semudah saat ini (lagi-lagi karena keterbatasan informasi), sehingga kesempatan magang saya pergunakan dengan memberikan dedikasi sepenuh-penuhnya, layaknya pegawai tetap walau jam  dan beban kerja kala itu hanya diganjar dengan makan siang gratis dan penggantian traspor seadanya.

Bagaimana dengan generasi milenial? Dari pengalaman saya melakukan wawancara dengan calon pegawai—pun ketika akhirnya bekerjasama dengan mereka, saya menemukan mereka  lebih “santai”. Nggak mau ambil pusing. Berpikir praktis dan percaya bahwa setiap hal memiliki solusi teknis.

“Nggak happy di tempat kerja? Ya cabut! Kenapa harus kerja kantoran? Kerja freelance dari rumah juga bisa hidup, kok. Kenapa sih nggak boleh pegang HP terus? Kan yang penting pekerjaan selesai.” Singkatnya, tidak ada tanda seru dalam setiap delegasi tugas kepada mereka. Sebagai atasan/senior, kita tidak lagi bisa memerintah dan mengakhiri kalimat dengan titik atau tanda seru.

Sisi positifnya, relasi dengan para milenial ini membuat kita si “jelang tua” ini jadi terbuka pada ruang-ruang diskusi dan kompromi; sesuatu yang mungkin tidak kita dapatkan dari atasan kita dahulu. Bila dulu kita menganggap atasan  terlalu kaku, kuno dan antik, kini kita sadar  bahwa atribut yang sama juga disematkan kepada kita oleh para generasi milenial ini.

Generasi Narsis? Jangan-jangan Hanya Beda Persepsi
Tapi sungguh sulit menjadi milenial; banyak pekerjaan manusia di era mereka yang sudah dirampas oleh teknologi. Tekanan sosial termasuk anxiety karena “merasa perlu” untuk terpapar dengan penggunaan internet dan media sosial setiap saat.

Malas dan narsistik? Jangan-jangan ini hanya soal persepsi. Apa yang dulu kita kerjakan bertahap dan berlapis, kita bisa dipangkas oleh teknologi yang dinikmati oleh para milenial.

Memuja diri sendiri? Jangan-jangan ini hanya soal ketersediaan sarana saja. Orang memotret wajah sendiri kan bukan baru sekarang, saksinya adalah album-album foto yang menumpuk dengan berbagai pose kita di berbagai acara; termasuk foto niat di Tarzan foto (yang sempat happening di tahun 90an) atau di Malibu Studio (kids, do google it for your own pleasure). Bedanya, anak-anak milenial ini bia segera memasang foto di album-album foto digital mereka tanpa perlu pergi ke tukang cetak foto. Mereka tidak perlu memamer piala dan piagam yang dipajang di tembok rumah, cukup berikan tautan tentang portofolio atau pencapaian (novel baru, album baru, baru terima award, ketemu seleb, dll) dan…boom—seluruh dunia bisa melihat eksistensi mereka.

Milenial juga lahir dengan kelebihan yang melekat pada generasi mereka. Mereka adalah game changer. Lihat saja bagaimana mereka begitu lekat dengan teknologi dan mampu menerobos kerumitan hanya dengan menggunakan jari-jari mereka. Karena berpikir praktis, mereka adalah generasi yang tidak pantang bekerjasama untuk mencapai tujuan. Gerak mereka juga gesit. Ibarat hendak membangun rumah, mereka tidak menunggu sampai semua bahan lengkap untuk membangun, melainkan dengan apa saja yang mereka miliki dan mencari rekan untuk memenuhi sisanya. Rupanya mereka tidak gentar memulai dan tidak gengsi bila harus meminta bantuan.

Menjadi Relevan Tanpa Perlu Menyebalkan
Saya rasa pe-er terbesar dari setiap generasi X adalah menjadi relevan dan tidak jadi menyebalkan. Adalah konyol apabila menyebut-nyebut bahwa zaman kita adalah lebih baik atau yang terbaik; karena setiap zaman tentu memiliki wajah, tantangan dan kegembiraannya sendiri. Beradaptasi atau terlempar dari panggung, kadang pilihan memang seketat itu. Akan tetapi ada beberapa hal yang mungkin bisa kita lakukan. Yang pertama adalah menambah kompetensi pribadi (dalam hal ini, a continuous learning is a must), jangan ragu me-reinvent diri sendiri (pasangan saya adalah salah satu contoh individu terdekat yang bisa saya contohkan: dari marketing, staf purchasing, penulis lepas, konsultan PR, bekerja di label, menjadi wartawan, dan sekarang bekerja di suatu perusahaan digital. Singkatnya, dia bergerak mengikuti zaman).

Buat generasi X, jangan khawatir, karena lampu panggung belum sepenuhnya dimatikan. Selalu ada ruang untuk berkarya dan menemukan diri kita kembali. Masalahnya, apakah kita mau?

 “There’s a whole world out there where people fight to be relevant everyday.” (Birdman)

Share

3 thoughts on “Hampir Milenial”

  1. Mungkin aku adalah salah satu bagian dari yang kamu ceritakan di atas. Aku pun mengalami hal itu terjadi pada diriku. Seperti apa? Ya aku merasa kalau diriku enggak cocok kerja kantoran yang terlalu banyak aturan, hierarki yang kompleks, dan drama atau politik kantor. Aku juga tipe orang yang ketika sudah tidak happy bekerja di tempatku bekerja, ya aku kan pilih resign. Untuk apa mengerjakan suatu hal yang kita suka, tapi berada di tempat yang tidak membuat kita happy. its wasting time.

    Buatku, kerja adalah berkarya dari hobi atau skill yang akhirnya dapat menghasilkan uang. Output yang terpenting. Prosesnya seperti apa, ya biar kita sendiri yang tentukan. Kerja itu harus bahagia, supaya energi yang dihasilkan untuk hasil dari pekerjaan itu juga maksimal.

    1. Bowo darling. Glad to see you here! 🙂

      Yes, aku setuju dengan pendapatmu karena hal itu memang memungkinkan untuk dilakukan sekarang. Pekerjaan makin beragam, tools makin banyak, jejaring semakin terbuka, memungkinkan kita buat kerja di mana saja dan kerja apa saja (yang mungkin tidak pernah terbayangkan olehku atau senior-senior kita bertahun-tahun lalu). Tantangannya tentu nggak sedikit, karena semua orang jadi punya kesempatan dan paparan yang sama sekarang, the competition is tough! Makanya, menurutku tetap ada kok value yang nggak basi yang diwariskan oleh gen X ini, misalnya tentang mengasah kemampuan, menambah jam terbang, termasuk interpersonal skills yang kadang suka lack di generasi milenial ini. Jadi kalau benerasi milenial suka mengedepankan, “follow your passion”, menurutku ada satu kalimat lagi yang harus ditambahkan: …syarat dan ketentuan berlaku 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *