Sejenak Libur Fiksi

Berangkat dari kegagalan memenuhi target tantangan membaca Goodreads tahun lalu, tahun ini saya bertekad untuk membaca buku lebih disiplin dan konsisten.

Kalau diingat, hampir tidak pernah rasanya saya ke luar rumah tanpa membawa buku di tas. Waktu baru pertama kerja di tahun 2000an awal, buku adalah penyelamat dari kebosanan akan kemacetan lalu lintas Cibubur-Kuningan dan Kuningan-Depok. Bisa dibilang, dengan menempuh perjalanan 4 jam sehari satu buku bisa habis saya lahap dalam sehari. Masih ditambah baca majalah di tempat kerja (since that was part of the job)—plus blogwalking alias baca-baca blog orang di tempat kerja. Tapi itu dulu tentu saja. Saat internet belum begitu mudah ada di genggaman. Saat stamina membaca belum begitu gampang dibuyarkan oleh notifikasi email, mention di twitter, tagged di instagram atau insta-story dan status-status facebook yang bikin tangan gatal untuk ikut mengomentari. Alhasil, kemampuan membaca teks panjang jadi berkurang, jadi nggak sabaran dan seringnya jadi tidak teliti atau kelewatan menangkap hal-hal penting atau bahkan makna tersirat dalam suatu teks.

Walau menikmati bacaan fiksi kontemporer, sejak dua tahun belakangan saya ternyata mulai kerajingan membaca buku-buku non-fiksi dan menemukan bahwa hampir setengah lemari buku saya mulai menumpuk buku-buku bergenre tersebut.

Di awal tahun ini, saya mencoba memenuhi janji kepada diri saya sendiri untuk membangun stamina membaca saya kembali, tiga buku ini adalah buku terbaik yang membuka tahun 2018 saya:

  1. Sapiens: A Brief History of Humankind

Dulu homo sapiens hanya sebagian kecil dari populasi—lantas bagaimana mereka bisa menyalin dirinya sedemikian rupa sehinga jumlahnya begitu banyak dan menguasai bumi? Mengapa kemudian dia memilih menjadi “yatim” dan memisahkan dirinya dari kelompok binatang? Berbagai pemikiran menarik dari sejarawan asal Israel, Yuval Noah Harari dituangkan dalam buku setebal 510 halaman ini (Alvabet, 2017). Tentang bagaimana kita bisa sampai di hari ini—beserta semua invovasi, kehidupan spiritual, laku ritual, perubahan perilaku, hubungan manusia dengan sesamanya, dengan alam, dengan hewan dan segala kegilaan yang berlangsung selama berabad-abad sebelum milenium ini. Perjalanan membaca buku ini rasanya bagaikan disajikan menu lengkap—dari hidangan pembuka sampai penutup—yang layaknya memang dinikmati secara bertahap dan perlahan.

Menemukan tempat baca yang lumayan menyenangkan di daerah Senopati. Quiet and peaceful (at least before 6 PM).

Ada banyak pernyataan yang membuat saya bolak-balik menggarisbawahi kalimat-kalimat tersebut; sebagian karena beresonansi dengan apa yang saya pikirkan—sebagian lagi karena membuat saya semakin memahami hal-hal ganjil yang ada di sekitar saya (yang ternyata hanyalah bagian dari sejarah yang berulang).

Kini agama sering dipandang sebagai sumber diskriminasi, perselisihan dan perpecahan. Namun sesungguhnya agama telah menjadi pemersatu terbesar ketiga bagi manusia—selain uang dan imperium.” (hal.247)

Kaum monoteis cenderung jauh lebih fanatik dan misioner ketimbang kaum politeis. Kaum momoteis biasanya meyakini bahwa mereka memiliki seluruh pesan dari satu dan satu-satunya Tuhan; mereka tergugah untuk merendahkan semua agama lain.” (hal. 257)

Ujian riil pengetahuan bukanlah apakah ia benar, tetapi apakah ia memperkuat kita?” (hal. 308)

Bagi orang-orang sains, kematian bukan akhir tak terelakkan, tetapi semata-mata problem teknis. Orang mati bukan karena para dewa memutuskannya, tetapi karena berbagai kegagalan teknis—serangan jantung, kanker, infeksi. Dan setiap problem teknis, memiliki solusi teknis.” (hal 317)

Terungkap bahwa pada tahun setelah serangan 9/11, terlepas dari pembicaraan tentang terorisme dan perang, rata-rata orang lebih berkemungkinan membunuh dirinya ketimbang dibunuh oleh teroris, tentara atau pengedar obat bius.” (hal 436)

Tentu saja, Anda tidak harus setuju akan apapun yang dikatakan Harari—akan tetapi sebuah buku yang bagus tentu membuka pintu pada percakapan, bukan?

Salah satu kelemahan dari buku ini (versi terjemahan) justru adalah karena masalah teknis. Ada begitu banyak typo atau salah ketik yang bertebaran yang sedikit mengurangi kenikmatan dalam membaca (especially when you have editing background. Doh!)

But overall, I really recommend this book to everyone!

  1. Homo Deus: The Brief History of Tomorrow
    Masih dari penulis yang sama, Yuval Noah Harari. Karena cukup kecewa dengan versi terjemahan di buku sebelumnya, sequel dari Sapiens ini saya beli dalam versi Bahasa Inggris. Apabila dalam Sapiens, Harari mengangkat tentang sejarah terbentuknya peradaban, bagaimana Sapiens akhirnya menjadi “binatang” paling unggul dan sejarah terbentuknya kekuasaan-kekuasaan, maka Homo Deus merupakan catatan prediksi Harari akan apa yang sedang berlangsung atau akan terjadi bagi bumi dan spesies bernama manusia. Pikiran-pikiran Harari, cukup menarik dan provokatif. Misalnya saja cara manusia memperlakukan hewan—mostly, dengan semena-mena—adalah produk dari praktik agama Abraham. Atau bagaimana senjata api yang sepanjang milenium baru ini ditenggarai sebagai penyebab kematian terbesar ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan….GULA. Penggunaan gula yang masif ternyata menyebabkan diabetes dan obesitas yang membunuh lebih banyak umat manusia ketimbang bubuk mesiu.

    Lantas apa isi buku yang terkesan ngalor-ngidul membahas sejarah umat manusia-dan prediksinya untuk masa depan? Jawaban Harari sederhana, belajar sejarah mungkin tidak akan membebaskan kita dari masa lalu, akan tetapi belajar sejarah memampukan kita untuk melihat atau menempuh jalan yang berbeda ketimbang yang dipikirkan atau yang berani dibayangkan oleh nenek moyang kita. Dan mengetahui bahwa kita dapat menjalani hidup dengan cara yang berbeda, adalah suatu kebebasan tersendiri.

For thousand of years history was full of technology, economic, social and political upheavals. Yet one thing remained constant: humanity itself. Our tools and institutions are very different from those of biblical times, but the deep structures of the human mind remain the same.” (hal. 53)

  1. Ernest Hemingway: Reportase-Reportase Terbaik
    Nama besar Hemingway di dunia sastra kerap membuat orang lupa (atau bahkan tidak tahu) bahwa Papa Hemingway juga memiliki sepak terjang di dunia jurnalistik dan menulis berita dengan caranya sendiri—yaitu jurnalisme sastrawi. Banyak yang bilang bahwa penulis yang berangkat dari latarbelakang wartawan memiliki berbagai keunggulan ketimbang penulis-penulis “menara gading” yang tidak pernah mencecap berbagai kehidupan di luar hidup dan imajinasinya sendiri.

Paris, yang adalah kota mode dunia, kota tempat berkumpulnya para seniman, melting pot berbagai kebudayaan adalah kota yang menjadi pengamatannya dalam kumpulan tulisannya di buku ini. Di mata Hemingway, Paris tidak pernah se-glamor penampakannya. Paris juga memiliki orang-orang udik, preman jalanan bahkan para seniman wannabe yang hobi membahas karya seni—tanpa memiliki karya pribadi (maaf curcol, banyak juga terjadi di scene seni sini sih, HA HA HA).

Dari 30 tulisan dalam buku ini, ada beberapa yang mengena di hati saya, misalnya “Saat Darah Membasuh Pembalut Betis” yang mengangkat tentang perubahan suatu tempat (dalam tulisan ini karena perang) dan “Artis Terkenal Yang Tak Dikenal di Negeri Sendiri”. Tulisan Hemingway yang satir dan direct (jarang kita temui kalimat bersayap) memampukan kita untuk melihat Paris—pun dengan cara yang berbeda—dari mata sang maestro.

Kutipan favorit saya:

“Kota yang direkonstruksi adalah jauh lebih menyedihkan daripada kota yang hancur. Orang-orang tidak mendapatkan kembali tempat tinggal mereka. Memang, mereka memiliki rumah baru. Namun rumah tempat mereka bermain saat anak-anak, ruangan tempat mereka bercinta dengan lampu dimatikan, perapian tempat mereka duduk, gereja tempat mereka dinikahkan, ruangan tempat anak mereka meninggal, semua tempat semacam itu telah hilang. Sebuah desa yang hancur dalam perang selalu punya martabat, seolah-olah ia telah mati untuk membela sesuatu.” (hal 72)

Sekali lagi, ada begitu banyak typo yang saya jumpai di bab-bab buku ini (Penerbit Ecosystem, 2017)—terkadang terjemahan yang menurut saya terlalu kaku dan kurang mulus. Sangat disayangkan, mengingat karya yang diterjemahkan adalah dari sang legenda Hemingway. Mungkin ini saatnya bagi perusahaan penerbitan Indonesia untuk memperkerjakan korektor dengan lebih serius lagi?

Well, here is hoping.

 

 

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *