Bukan Sekadar #BestNine Momen

Karena hidup seharusnya tidak hanya menyajikan #bestninemoment, tapi 365 momen berharga—sepanjang tahun.

Tentu saja saya paham, sembilan foto dengan jempol atau likes terbanyak ditujukan untuk memenuhi standar estetika instagram yang berbentu bujur sangkar.

Karena beberapa hal yang akan saya ceritakan di bawah, postingan ini memang bisa dibilang “terlambat” selesai. Izinkan saya berbagi hal-hal yang menjadi highlight sepanjang kehidupan saya di sepanjang tahun 2017 lalu.

Seekor Anjing Bernama Rocky
Dalam perjalanan saya sebagai pencinta anjing, pengalaman “menciduk” Rocky adalah pengalaman yang paling berkesan. Di sini saya belajar yang namanya kerja tim dan tanggungjawab mengawal proses dari awal sampai akhir. Rocky adalah seekor anjing yang saya rescue dari sebuah jalan ramai di dekat stasiun. Asal tahu saja, pengalaman me-rescue ini berbeda dengan pengalaman menyelamatkan dua anjing saya sebelumnya, Utih dan Tintje. Saya berkenalan dengan tenaga profesional yang biasa menangkap anjing liar, belajar prosedur mengurus anjing sakit, mengalami pahitnya susah cari foster dan adopter—sampai akhirnya saya belajar let go hal-hal yang di luar kekuasaaan saya. Satu hal, melakukan rescue itu tidak mudah—bukan soal biaya, melainkan lebih ke mental. Termasuk menahan diri dalam memberikan jawaban-jawaban judes dari pertanyaan-pertanyaan mengesalkan—dan (trust me) melelahkan.

Bisnis Naik Kelas
Tahun ini, Kanakata Creative Services, agensi kreatif yang saya dirikan bersama sahabat saya, Rully Larasati memasuki usia yang ke-3. Bisa dibilang Kanakata adalah sekolah tingkat lanjutan saya. Bagaimana membangun usaha se-kelas UKM (modalnya, kalau kualitas sih world class, tjieee…), namun bisa menjadi usaha yang making profit dan sustainable. Yang menggembirakan, tentu saja menyaksikan bagaimana Kanakata naik kelas setiap harinya—baik dalam hal volume klien maupun tantangannya. Namanya usaha, tentu saja prosesnya tidak selalu menyenangkan. Kanakata adalah proses belajar banget—sekaligus cambuk saya. Kalau dulu saat memulai bisa “merasa” santai, saat ini ketika Kanakata sudah menjadi penopang bagi banyak kepala, tentu saja saya harus menginjak gas dan mengemudi di jalur cepat.

With best friend turned into business partner, Rully Larasati.

Different Year, Same Beloved Tribe
Tengah Tahun banyak yang disyukuri, oleh karena itu pada saat momen ultah saya di bulan Juli lalu, saya sengaja mengundang 15 orang terdekat dalam hidup saya—setidaknya selama 10 tahun terkhir untuk hadir di acara syukuran ulang tahun saya. Ini menurut saya sangat menyenangkan, karena saya tipe yang bergaul lumayan awet dan memiliki tipe pergaulan MLM—sehingga rata-rata sahabat-sahabat saya ini juga sudah mengenal satu sama lain. Yang paling menggembirakan tentu saja adalah karena mereka actually made time untuk hadir dan dengan gagah berani menembus kemacetan di Senayan. Ini momen langka mengingat tingkat kesibukan juga prioritas hidup yang sudah bergeser. Thanks so much, gangs!

“All work and no play makes Jack a dull boy…”
Berdasarkan paham itu juga, saya melakukan beberapa kali liburan di tahun ini. Yang pertama, tentu saja bertiga dengan (lagi-lagi) partner bisnis saya, Rully dan sahabat saya selama 17 tahun terakhir, Zeki ke Tokyo, Kyoto dan Osaka di Jepang. Selain bisa menyaksikan langsung karya Yayoi Kusama, Bonusnya, saya bisa ketemu sama sahabat saya, Sarah Silaban yang terakhir saya lihat di tahun…2006.

Numpang piknik di taman sebelum akhirnya menyerah dan berteduh. Gadis Jakarta biasa pakai AC, shayyy!
Akhirnya ketemu anjing Shiba beneran! *dadah-dadah ke Utih & Tintje*

Saya juga mendapat kesempatan buat liburan tengah tahun ke Ho Chi Minh bersama suami (dengan alasan ingin makan pho enak) dan mampir ke Singapur untuk belanja di toko buku bekas favorit kami di Bras Basah. Di penghujung tahun, tepatnya Oktober, saya beserta kakak dan ibu saya juga sempat mengadakan girls only trip dalam rangka ultah Ibu saya yang ke-66. Seru, pasti. Banyak keselnya? Itu juga. Yang pasti saat pulang kami harus benar-benr menekan koper kami agar bisa menampung semua belanjaan. (I told you, it was a girls; trip, no?) Sebenarnya saya sudah beberapa kali berniat menulis tentang perjalanan saya dalam entri yang terpisah, apa daya karena momen selanjutnya yang membuat saya banyak menahan diri untuk menulis.

Kami menemukan nama baru untuk grup kami: The Inangs.

Kembali ke Sekolah
Nah, sepertinya ini adalah highlight terbesar dalam hidup saya. Saya berkontemplasi, banyak riset dan banyak bertanya buat mengambil keputusan untuk kembali ke kampus. Apalagi dengan kapasitas otak yang lebih banyak pingin senang-senangnya ketimbang belajar (ho ho ho). Setelah dijalani—ternyata memang beneran susah, kak! Apalagi yang saya ambil adalah jurusan yang benar-benar baru (bagi saya), yaitu filsafat.

Tentu saja belajar filsafat itu menyenangkan, ilmu yang bukan mengawang-awang namun justru menawarkan telaah kritis dan tertib dalam berpikir—yup, menyenangkan sampai ketika tugas-tugas esai berdatangan. Di sini ternyata letak kewalahan saya—dan hampir semua teman-teman sekelas lainnya. Selain latar belakang kami yang non-filsafat, kelas yang kami ikuti adalah kelas matrikulasi atau kelas persamaan sebelum  melanjutkan ke jenjang S2 atau S3. Materinya cukup padat dan harus bisa kami lahap dalam setahun.

Drama-drama tentu saja bermunculan, dari jumlah peserta yang mulai berguguran satu-persatu sampai keriuhan whatsapp grup setiap malam jelang pengumpulan tugas. Dari yang penuh wejangan dan solutif sampai yang menanyakan hal yang sama berulang-ulang yang perlu disikapi dengan sikap zen level dua juta ketimbang membuat tekanan darah naik.

Trus, apanya yang susah? Ya nggak ada sih, kecuali untuk satu pertanyaan dosen yang harus dijawab dalam lima sampai sembilan lembar folio, spasi 1 dengan font times new roman—dan tidak lupa menyebutkan lima buku yang dijadikan referensi jawaban.

SEE, NGGAK SUSAH KAN? *Brb, pengsan*

Masih banyak lagi sebenarnya momen berkesan—yang menggembirakan, juga kadang menyedihkan yang terjadi di sepanjang tahun 2017 lalu. Misalnya kegembiraan menyaksikan teman-teman yang “mentas” dengan usaha mereka masing-masing—atau justru menghela napas melihat begitu banyak persahabatan yang terluka akibat perbedaan pandangan politik, termasuk ranah yang sangat personal seperti agama. Untuk alasan yang terakhir, itu juga yang membuat saya memilih vakum untuk sementara waktu dari berbagai akun media sosial yang saya punya—purely because it was heartbreaking.

Minimnya tatap muka dan jeda untuk kontemplasi dan memberikan respon membuat semua orang merasa wajar untuk mengungkapkan hal-hal yang dulu dibicarakan di balik tembok tinggi dan di belakang pintu-pintu yang tertutup. Berbeda sekali dengan kenyataan yang saya termukan kemudian di dunia nyata; masih ada persahabatan yang hangat, perbincangan yang tidak melulu berisi politik dan dogma agama, relasi yang cair dan manis—semanis kopi susu dengan kekentalan yang pas yang kita nikmati bersama sahabat-sahabat tersayang—sambil berbincang tentang cita-cita berkarya dan mimpi masing-masing.

Semoga di tahun yang baru ini kita diberi banyak kesempatan untuk menciptakan momen-momen yang lebih dari sekadar angka sembilan di instagram—yang terlalu berharga dan terlalu banyak untuk dituliskan hanya dalam satu postingan.

Selamat tahun baru!

 

 

 

 

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *