Panduan Agar Tidak Jadi Orang Yang Menyebalkan

Etika pergaulan 101 ternyata masih relevan.

1. Never state the obvious. “Eh, kok elo gendutan?” atau “Ini badan atau tulang, makan dikit kek.” Surprise, surprise tanpa kita perlu bikin pernyataan yang sudah sangat jelas, lawan bicara juga sadar kok kalau berat badan mereka naik. Atau sudah ada belasan orang yang bilang kalau badan mereka terlalu kurus. What’s the fun in that? Kalau cuma buat basa-basi sih mending simpan saja di kantong. Kalimat yang cuma berdurasi lima detik ini biasanya justru tinggal lama di hati lawan bicara alias bikin sakit hati.

2. On time. Ternyata bukan cuma urusan datang saat janjian, mengumpulkan pekerjaan atau tiba saat meeting tepat waktu. On time dalam hal ini termasuk memenuhi janji sampai membayar utang tepat pada waktunya.

3. Never mix friendship with money. Kecuali sudah sangat kepepet, buat saya urusan pinjam-meminjam uang itu sangat tabu apalagi kalau jadi habit. Oke lah, sekali ada keadaan mendesak, atau kali kedua karena salah perhitungan. Akan tetapi juga ingat, kondisi keuangan mepet terus ini nggak melulu karena gaji ngepas loh, bisa juga karena bad money management dan satu hal yang paling gengges: kebiasaan. Jangan sakit hati kalau permintaan pinjaman lama-lama ditolak, sahabat Anda kan juga punya prioritas dan nggak cuma “mikirin” hidup Anda, shayyy.

4. Siapa yang bayar? Masih urusan perduitan. Pernah nggak ketemu teman yang kalau makan atau ngopi seringnya kita yang bayar (padahal kita nggak nawarin?). Alasannya sejuta, dari belum ke ATM, ketinggalan dompet sampai janji manis “Next time gue yang bayar ya!” Sering? Sini sering banget. My advice for you, jangan sampai kita “diukur” orang cuma karena sikap kita terhadap duit. Bayar apa yang harus kita bayar. Nggak sanggup makan atau hang out di suatu tempat? Terus terang lebih baik ketimbang mengharapkan dibayarin. Satu lagi yang sering pura-pura “dilupakan” adalah bayar pajak restoran. Seorang teman pernah cerita, dalam suatu acara buka puasa yang BS-BS, semua temannya menitip uang nge-pas dan langsung pulang. Saat bon keluar, dia harus nombokin hampir satu juta hanya untuk bayar pajak doang!

5. No sexist jokes. Karena tidak lucu dan tidak konstruktif. Sekian.

6. Tiga pertanyaan tabu menurut saya: penghasilan, kehidupan seks dan agama.

7. Why do yu want to know? Banyak persahabatan yang bubar karena sifat “kepo”. Sebelum membuka mulut menanyakan hal-hal yang melintasi batas privasi, coba tanya pada diri sendiri: kenapa sih saya ingin tahu? Untuk pengetahuan pribadi? Untuk kesenangan pribadi? Untuk konfirmasi berita yang kita dengar? Atau… untuk dibagikan lagi ke orang lain?

8. Give space. Persahabatan, seberapa pun dekatnya menurut saya sih tetap butuh “ruang”. Nggak selamanya kan kita ingin beraktivitas ditemani—atau nggak selamanya hal-hal terdalam dalam hidup ingin dibagikan ke orang lain. Jangan lupa, setiap orang selalu punya sesuatu yang mereka ingin simpan buat dirinya sendiri.

9. Geng Cinta AADC might look cute back in early 2000. But when you are in your late 30s or 40s dan masih nge-geng serta segala sesuatu dalam hidup ditentukan oleh pendapat kelompok? Girlfriend, stand for yourself, like seriously! Untuk alasan yang sama—plus pengalaman pernah di-bully sama geng masa sekolah juga, saya anti sama yang namanya reuni. Sorry, high school is way over for me.

10. Jangan jadi motivator dan pendakwah  di media sosial dan grup chat. Ingat, nggak semua orang merasa nyaman dengan “semangat pagi!” atau ajakan beribadah. Hargai perbedaan, terutama bila grup chat tersebut terdiri dari berbagai latarbelakang.

Ada ide lain? Silahkan ditambahkan di kolom komentar ya!

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *