Elegi Untuk Opo

Rasanya perkenalan pertama saya pada patah hati adalah ketika saya berusia 13 tahun. Suatu hari di bulan Agustus, tepat jam tujuh malam. Saat ketika saya menyadari bahwa anjing saya, Ciko tidak pulang untuk makan malam.

Di kala itu, pemilik anjing tidaklah “serepot” hari ini. Kami tidak perlu mengurung anjing kami rapat-rapat di dalam rumah, menyurunya diam ketika menggonggong—atau merasa “terhakimi” dengan pandanagn tidak suka orang-orang karena Anda memelihara anjing. Anjing-anjing kami biasa sarapan di rumah, lalu mereka akan bertualang di kompleks atau lapangan dan pulang lagi jelang magrib untuk menikmati makan malam dan beristirahat di garasi rumah. Tidak ada yang usil menimpuk atau menjerat Ciko—juga anjing-anjing lain di kompleks kami. Semua tahu bahwa anjing-anjing ini memiliki tuan dan bukannya anjing liar (stray). Mereka hanya sekadar berjalan-jalan, mengeksplorasi dan bersenang-senang.

Di luar kebiasaan, Ciko tidak pulang malam itu. Tidak juga malam sesudahnya. Minggu sesudahnya. Atau bahkan berbulan-bulan sesudahnya. Mata saya tidak lepas mencari malam pertama dia tidak pulang. Ke rumah-rumah, got bahkan sampai ke kompleks tetangga terdekat. Siapa tahu dia terjerat, tercebur—atau malah ditangkap dan dirantai di rumah orang. Sampai sekarang saya masih tidak bisa menebak apa yang terjadi pada Ciko—bahkan 20 tahun sesudahnya. Mungkin juga tidak tega. Saya tidak sanggup membayangkan apakah dia mati tertabrak kendaraan dan tubuhnya dibuang begitu saja. Atau dia dijerat dan dijual orang ke lapo. Atau jangan-jangan berjalan terlalu jauh sehingga tidak tahu jalan kembali. Ciko yang tercerabut dari kehidupan sebuah keluarga yang menyayangi dan menangisinya ketika dia tidak kembali.

Bagi Anda penggila anjing ras, mungkin Ciko bukanlah tipe anjing favorit Anda. Ya, Ciko hanya anjing kampung biasa. Akan tetapi di mata saya, Ciko istimewa. Dia survivor ketika saudara-saudaranya bergantian sakit dan mati. Tubuhnya tegap, bulu-bulu di tubuhnya berwarna putih dengan corak hitam di berbagai tempat. Perawakannya cenderung langsing (karena dia anjing yang aktif) dan matanya jenaka.

Dan saya masih ingat perasaan itu. Sedih yang dalam dan panjang. Kehilangan yang tidak sanggup saya jelaskan pada sebagian orang di sekeliling saya, karena Ciko hanyalah… seekor anjing. Mata saya sembab berhari-hari. Saya menarik diri dari pergaulan. Because seriously, how did you explain your grief to people who did not undertand the joy of having a dong in the first place? Yep, useless.

Saya sempat lupa bagaimana rasanya memiliki anjing karena bertahun-tahun sesudahnya keluarga kami tidak lagi memiliki anjing, kemudian saya mulai bekerja, keluar rumah, sempat tinggal di apartemen. Sampai akhirnya kesempatan untuk memulihkan trauma itu datang ketika saya dan suami me-rescue dua anjing kintamani yang sampai sekarang resmi menjadi dua anak kaki empat kami, Utih dan Tintje.

Utih & Tintje. Kalau kompak begini, biasanya kalau lagi nge-bully kucing lewat.

Sejak saat itu hidup kami pun berubah. Banyak keputusan yang kami buat—pada akhirnya—dengan mempertimbangkan kesejahteraan dua anak kami ini. Mulai dari memilih lingkungan tinggal, pengaturan aktivitas dan liburan (harus pulang jam berapa, kalau ada tugas/acara ke luar kota harus gantian dengan suami—kalau liburan, siapa yang bisa kami percaya untuk menjaga anak-anak kami, dst), bahkan sampai ke pergaulan. Kami jadi jarang menerima teman-teman kami main ke rumah dan memilih janjian ke coffeeshop karena kami tidak mengikat atau mengandang Utih dan Tintje, pun ada tamu sekalipun. So you know, basically they are the owners of the house. LOL.

Opo, si anjing baik penunggu ruko.

Saya bertemu Opo secara tidak sengaja di depan sebuah ruko tempat ibadah di kawasan Depok. Usianya waktu itu mungkin masih sekitar 3 bulan. Terikat di pohon sambil melonjak-lonjak ramah, berusaha menarik perhatian orang-orang yang baru selesai beribadah. Tentu saja tanpa berpikir dua kali, saya langsung menghampiri Opo, menepuk kepalanya dan mengajaknya bermain. Minggu-minggu setelahnya, saya selalu membawakan makanan kering atau camilan untuk Opo. Kadang kalau saya sedang off, dengan seorang teman, kami juga sering mampir ke tempat Opo dan memberikannya makanan berisi nasi hangat, sup ayam dan vitamin atau sekadar mengajaknya berjalan di sekitar ruko. Hari-hari terus berjalan, kadang saya menjadi sangat sibuk dan sering berpergian, sehingga saya tidak sempat menengok Opo—akan tetapi karena dalam setiap perjalanan pulang saya selalu melewati ruko yang dijaga Opo, saya selalu merasa sedikit lega melihatnya tetap sehat dan ceria walau terikat—dari kejauhan.

Sampai suatu hari ketika sedang off, saya memutuskan untuk menengok Opo dan membawakannya makanan. Alih-alih mendapat sambutan meriah seperti biasanya, saya melihat Opo sedang berbaring lemah dan kejang-kejang. Tubuhnya begitu kurus dan dia sudah tidak dapat berdiri atau menopang dirinya dengan baik. Hari itu juga Opo saya kirimkan ke vet terdekat dan ternyata memang suspect distemper (yang memang sedang mewabah di daerah kami). Opo pun saya kirimkan ke klinik yang lebih besar, Klinik Rajanti di BSD, untuk mendapat penanganan lanjutan. Walau banyak teman-teman doglover mengingatkan bahwa sangat kecil kemungkinan Opo untuk sembuh, toh saya masih berharap keajaiban itu ada.

Opo sedang menunggu giliran pemeriksaan di klinik Rajanti, BSD.

Di hari ke-11, Opo menyudahi perjuangannya untuk sembuh dan wafat di klinik tersebut. Opo memang bukan anjing saya, akan tetapi perasaan kehilangan yang saya rasakan ternyata tidak jauh berbeda seperti ketika saya harus kehilangan Ciko belasan tahun lalu.

Kisah Opo mengingatkan saya akan kisah-kisah saya dengan anjing-anjing yang bernasib sama dengannya. Hidup yang singkat, tersia-sia dan tidak dikenang siapapun. Mereka yang mati di jalan, di gorong-gorong atau lantai dingin rumah sakit (apabila mereka cukup beruntung mendapat pertolongan) tanpa ingat pernah punya rumah—atau keluarga yang menyayangi mereka.

Seorang teman bilang kita harus kuat. Demi menolong anjing lainnya. Move on dan jangan terlalu lama berkutat dengan kesedihan. Bahkan suami saya punya resep yang cukup ampuh setiap saya bersedih karena kehilangan anjing-anjing itu. “Each time you feel sad about those dogs who die, just remember also about the lives that you’ve saved.”

Anak-anak “asuh” lainnya yang sering saya kunjungi saat sedang libur.

Tapi saya pikir tak mengapa kalau saya berduka di saat kepergian Opo—karena bisa saja saya satu-satunya orang yang menangisi dan menghayati masa hidupnya yang singkat dan tidak diingat.

Selamat jalan, Opo. Terimakasih telah mengajarkan banyak hal—walau kamu hanya terikat di pohon—tentang kesetiaan, forgiveness dan tentu saja tentang kemampuan untuk melepaskan. Now run free in rainbow bridge, kid!

 

PS. It took me two months to finally complete this draft. Abandoned it several times because I was too sad. But I know that I had to somehow finish it.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *