Kita dan Semua Hal yang Tidak Kita Butuhkan

Suatu siang yang panas, setelah menyelesaikan suatu kewajiban administratif, saya terdampar di suatu mal yang baru buka di pusat Jakarta. Jam sudah menunjukkan waktunya makan siang, sementara satu-satunya tempat yang paling lumayan untuk ngadem dan makan siang. Setelah berkeliling di mal yang masih sepi itu, pilihan saya akhirnya jatuh pada sebuah restoran cepat saji Jepang yang siang itu hanya berisi tiga pengunjung.

Terus terang pilihan saya tertambat di situ bukan karena saya tipe orang yang adventurous dalam urusan makan atau tempat makan lain penuh, nyatanya hampir semua restoran di mal tersebut bisa dibilang sepi.

Pandangan saya segera tertumbuk pada poster besar yang dipasang di restoran itu yang menawarkan paket ekonomis yang berisi beef bowl, salad, gorengan, miso soup, puding cokelat dan minum sepuasnya. Dengan dorongan perut yang belum sempat terisi dari pagi, kontan saja saya tergiur dan segera menuju ke kasir untuk memesan dan membayar. Hidangan satu-persatu dikeluarkan. Bisa dibilang rata-rata susah tertelan dan tidak memuaskan. Sayur salad yang tidak segar, sup yang keasinan, daging dalam beef bowl yang alot dan puding cokelat yang kemanisan untuk lidah saya. Semua saya coba hanya sedikit-sedikit sambil membuat catatan dalam hati bahwa saya tidak akan masuk ke restoran ini lagi. Rasa serba nanggung dan perasaan kenyang yang juga nanggung. Saya mempertaruhkan kesempatan menikmati makan siang yang nikmat dan berkualitas begitu saja. Padahal kalau dipikir, rasanya satu mangkok beef bowl dan air mineral rasanya sudah cukup menopang aktivitas saya hari itu—tanpa perlu terpikat membeli paket yang ujung-ujungnya mengecewakan.

Lantas saya teringat akan sebuah buku yang baru saja saya selesai baca, Goodbye Things karya Fumio Sasaki. Seorang penggagas gaya hidup minimalis asal Jepang (yang oleh The Guardian disebut a hardcore minimalist) yang mendapatkan pencerahan setelah melepas/membuang/menyumbangangkan sebagian besar barang-barang miliknya. Menyisakan ruang luas di apartemennya dan beberapa benda yang fungsional yang bila ditotal, jumlahnya tidak lebih dari … 150 items saja! Di dalamnya sudah termasuk baju, celana, sepatu, buku, peralatan rumah tangga, peralatan mandi, dan lain sebagainya. Di era di mana toko online bertebaran, akses belanja begitu mudah—mana bisa?

Faktanya Fumio Sasaki bisa.

Di usia 35 tahun, Fumio merasa mandek dalam banyak hal. Memiliki pekerjaan, apartemen, pacar yang cantik—akan tetapi hal-hal tersebut tidak membawa kepuasan dan kebahagian bagi dirinya. Alih-alih merasa bersyukur, Fumio selalu bertanya-tanya tentang hal-hal apa lagi yang belum dimilikinya dalam hidup.

methode-times-prod-web-bin-62430d2c-161d-11e7-95d0-4f54ce31baae
Fumio Sasaki (Photo: The Times)

Berangkat dari eksperimen yang dilakukan Fumio pada dirinya sendiri tentang kecenderungan kita untuk membeli dan menumpung barang (hoarding), dia menemukan bahwa kita kerap kali mengasosiasikan kebahagiaan dengan memiliki barang baru. Ketika kita berhasil memiliki jaket idaman, misalnya. Ada perasaan gembira, tidak sabar ingin memakainya ke berbagai acara, mengambil foto diri untuk diletakkan di #ootd instagram. Akan tetapi kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Setelah lima kali memakai jaket tersebut kita mulai merasa terbiasa. 10 atau 15 kali pemakaian, bukannya tidak mungkin kita akan bosan.

Kita butuh barang baru, lagi dan lagi untuk terus berada di tahap kegembiraan yang sama. Kita pun mulai memburu barang baru, membiarkan barang-barang sebelumnya terus menumpuk dan bersesakan di dalam lemari dan sudut-sudut rumah kita. Fumio juga menemukan bahwa persepsi kita untuk terus merasa dihargai dan dicintai oleh orang lain kita letakkan atas dasar kepemilikan barang. Singkatnya, semakin keren dan stylish penampilan kita, maka akan semakin banyak orang yang respek dan betah berada di sekitar kita. Oleh karena itu, Fumio memutuskan untuk mengambil keputusan ekstrem, “berpisah” dengan benda-benda yang awalnya dia pikir bisa memberinya kebahagiaan juga gengsi dan nilai diri di mata orang lain.

Hasilnya? Kehidupan yang sederhana membuat Fumio jadi lebih produktif, enerjik, dan tentu saja lebih bahagia. Tidak cuma itu, di bagian lain bukunya, Fumio juga menyebutkan bahwa para pelaku gaya hidup minimalis ini juga biasanya (akan) bertubuh langsing. Rupanya kehidupan minimalis membuat kadar stres yang biasanya dilampiaskan pada kegiatan makan atau minum (alkohol) jadi berkurang.

Bagi kita yang ingin beralih dari pengumpul barang menjadi minimalis, Fumio membagikan 55 tip efektif di dalam bukunya tersebut. Tidak mudah, tapi bukannya tidak mungkin. Beberapa poin menarik yang menurut saya sangat berguna adalah sebagai berikut;

  1. Kita bisa mengucapkan selamat tinggal pada barang-barang yang tidak kita butuhkan. Mungkin kita akan merasa enggan mengingat jumlah kocek yang harus kita keluarkan untuk membeli barang tersebut, perasaan bersalah karena belum memakainya secara maksimal, merasa tidak enak membuangnya karena benda tersebut adalah hadiah atau karena memiliki kenangan tersendiri. Kita tidak perlu menyingkirkan benda-benda itu sekaligus, akan tetapi ketika kita berusaha jujur dengan semua alasan kita—bersiaplah terkejut dengan jawaban jujur kita sendiri.
  2. Kapasitas waktu, energi dan pikiran kita terbatas. Adalah keputusan bijaksana untuk menyederhanakan pilihan dan sistem kita.
  3. Perasaan takut menyesal adalah halangan terbesar ketika seseorang akan melakukan “decluttering”. Jangan-jangan jaket bulu ini akan terpakai kelak? Jangan-jangan tas ini akan jadi tren lagi beberapa tahun ke depan? Nyatanya, hanya sedikit orang yang pernah merasa sungguh-sungguh menyesal telah membuang barang-barang yang minim mereka gunakan. Sisanya malah mengaku lupa pernah memiliki benda-benda tersebut.
  4. Bedakan antara kebutuhan degan keinginan. Kita bisa mengurangi kecenderungan untuk membeli barang baru dengan dengan berpikir secara jernih apakah benda tersebut akan membawa manfaat atau hanya sekadar “lapar mata”.
  5. Dan terakhir, poin yang paling menyentuh buat saya: discard any possesions that you can’t discuss with passion. Fumio bersabda, selama kita bertahan dengan benda-benda yang kita sangat sukai, maka akan sangat kecil kecenderungannya bagi kita untuk menginginkan hal-hal lain. (Foto: Riesma Pawestri)

signature-JH-TQL

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *