Bras Basah Yang (Belum) Terlupakan

Tidak ada yang terlalu jauh atau susah dicari di Singapura.

Bila Anda adalah pencinta buku dan berkesempatan untuk pergi ke Singapura, cobalah bertandang ke Bras Basah Complex; sebuah bangunan lama yang seakan menarik kita kembali ke masa awal 1980an; saat Singapura belum se-modern hari ini.

Di tengah semakin lesunya industri toko buku, toko-toko buku di Singapura, kota yang tercatat literacy rate-nya mencapai 97% (Data Department of Statistic Singapore, 2017)  ternyata juga tidak kebal dari fenomena ini.

Ketika awal dibangun, Bras Basah Complex memang didesain dan dipersiapkan untuk menjadi pusat buku. Tidak heran bila tenant-tenant pertama yang menempati pertokoan tersebut diwajibkan menjual buku. Tidak cuma itu, Bras Basah Complex di periode 80an dan 90an juga merupakan tempat populer untuk mengadakan pertunjukan seni dan budaya.

Tak pelak, Bras Basah adalah tujuan mutlak bagi pelajar, mahasiswa, penggiat seni dan pencinta buku. Akan tetapi dalam perkembangannya, akhirnya banyak toko buku yang harus menyerah kepada kenyataan pahit dan menutup toko-toko mereka. Saat ini hanya tinggal segelintir toko buku, toko stationery, dan toko musik yang masih bertahan dan bergeliat di sana. Sisanya hanya deretan toko-toko yang sudah tutup (baik sementara atau for good). Suasana terasa lengang dan hanya sedikit saja yang berlalu lalang.

Salah satu toko buku favorit saya terletak di bagian belakang gedung, Evernew Bookstore, yang menjual buku-buku second hand; mulai dari novel (berbagai genre), self help books, travel books, buku bergambar, sampai Alkitab antik. Setiap buku dibrandol dengan harga antara 2.90 dollar sampai 10.90 dollar–atau di atas 10 dollar untuk jenis buku bergambar dan coffetable books.

20170727_121819

Walau buku-buku yang dijual adalah buku bekas, akan tetapi koleksinya bisa dibilang cukup update. Selain sastra modern klasik, saya bisa menemukan buku-buku beberapa penulis favorit saya di sana, mulai dari Chimamanda Ngozi Adichie, Atul Gawande, sampai Donna Tartt. Yang lebih menyenangkan, tidak akan ada penjaga toko yang berwajah serius yang mengikuti setiap gerak kita. Atau rewel menanyakan kita hendak mencari buku apa. Silahkan menjelajah sepuasnya, take tons of selfie (bila perlu), lalu bayar buku yang diinginkan di kasir dekat pintu masuk.

Adalah Mr. Neo Siong, sang penggagas dan pencinta buku yang mendirikan toko buku ini di tahun 1988. Pada awalnya Evernew hanya merupakan tempat penyewaan buku. Sampai kemudian Mr Neo menyadari bahwa buku-buku bekas berkualitas baik memiliki penggemarnya tersendiri. Ia pun mengubah konsep penyewaan menjadi toko buku secondhand. Tidak cuma itu, Mr Neo juga membuka kesempatan bagi mereka yang ingin menjual buku-buku lama mereka ke Evernew. Membuat koleksi toko buku ini kian beragam dan tetap up to date. Mr. Neo yang filosofis meyakini bahwa lebih baik satu buku diulang baca oleh banyak orang, ketimbang terus menebangi pohon untuk satu judul buku yang sama dan hanya teronggok di sudut lemari tanpa pernah dibaca lagi.

Kunjungan ke toko buku bekas memang selalu jadi hal yang menyenangkan buat saya. Saya selalu membayangkan “kehidupan” sebelumnya yang dimiliki buku-buku ini. Siapa yang membeli mereka, yang mendekap mereka setiap malam sebelum tidur, yang menjadikan mereka sahabat dalam perjalanan commuting yang membosankan atau bagaimana peran mereka sebagai medium penyampai pesan.

Dua tahun yang lalu, ketika saya membeli salah satu buku di Evernew, Metamorphosis And Other Stories karya Franz Kafka, saya menemukan sedikit catatan tulisan tangan di halaman prelim-nya. Kira-kira isinya begini. “Lisa, entah mengapa ketika saya melihat buku ini saya teringat akan kamu dan senja yang pernah kita lewati di taman itu. Senja itu mungkin bukan punya kita lagi, akan tetapi setidaknya kamu bisa memiliki buku ini.” Irvin, Essex 2008.

20170727_130921

20170727_125757 copy

Saya tidak tahu apa yang terjadi antara Lisa dan Irvin. Atau bagaimana perasaan Lisa ketika menerima buku ini sebagai curahan hati dari Irvin. Apakah mereka sempat berbaikan? Atau akhirnya mereka berpisah dan menjalankan hidup mereka masing-masing? Entah bagaimana buku ini bisa terbang sedemikian jauh sebelum mendarat di toko kecil di Singapura tersebut. Hari ini buku tersebut sedang terparkir manis di salah satu sudut lemari buku saya menunggu antrean untuk dibaca. Tapi siapa tahu, mungkin kelak buku yang sama akan pergi ke tempat-tempat jauh lagi yang tidak pernah dibayangkan oleh Irvin, Lisa atau mungkin Mr. Noe.

signature-JH-TQL

 

Share

2 thoughts on “Bras Basah Yang (Belum) Terlupakan”

    1. Enjoy your trip! BooksActually kinda worth to visit shall you want to see more of Singaporean writer (Asians too), but for me none beats the used books in Bras Basah 🙂 #cheapskate

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *